Setan Punya Banyak Nama

Juli 22, 2008


Cerpen Ary Wibowo

SATU hal yang tak disukai Sarman setiap kali menjelang bulan puasa adalah kenaikan harga minyak goreng dan kebutuhan pokok. Sarman tak pernah habis pikir mengapa setiap menjelang bulan suci justru seolah menjadi momentum yang tepat bagi setan-setan untuk mencobai umat yang bertaqwa. Setan-setan itu menjelma menjadi harga kebutuhan pokok yang melambung, minyak tanah yang langka, dan menjelma menjadi apa saja untuk menggoda hati manusia.

Sarman menjejakkan kaki, turun dari angkutan umum yang membawanya pulang dari kerja saat senja mulai melindap mencetak bayangan tubuhnya menyusuri jalanan kampung. Seperti senja yang lain, Sarman mendapati ibunya di teras rumahnya yang kecil. Lelaki itu memandangi jemari sang ibu yang dengan penuh kasih merawat tanaman hias. Tanaman dengan daun bergelombang dan menjulang hingga menyentuh langit-langit rumah. Tanaman itu telah sepuluh tahun dirawat ibunya sejak almarhum ayahnya meninggal.

Masih teringat dalam kenangan Sarman. Dulu ayahnya membeli tanaman itu dari seorang penjaja bunga keliling. Ayahnya merasa kasihan saat melihat penjual bunga itu melepas penat di depan pagar rumah, mengeluhkan barang dagangannya belum ada yang laku sama sekali. Entah karena iba atau tertarik, ayahnya membeli dua polybag tanaman kecil. Maka sejak itu setiap sore tanaman kecil tersebut dirawatnya. Disiram dan beberapa tempo sekali diberi pupuk. Kegiatan itu seolah merupakan hiburan bagi ayahnya menjelang pensiun dari pegawai negeri.

Sesekali ayahnya mengajak Sarman jalan-jalan ke pasar bunga, sekadar membeli pot atau tanaman murah yang bisa menambah kesejukan teras rumah. Dengan bertambahnya hari, teras itu mulai dipenuhi tanaman. Namun ayahnya paling suka memerhatikan tanaman yang dibeli dari penjual bunga keliling. Tanaman yang awalnya hanya mirip bendera kecil, setelah delapan bulan berikutnya berubah menjadi lembaran daun hijau yang cukup lebat.

Ibunya pernah berkata bahwa ayah Sarman memiliki tangan yang dingin. Setiap tanaman yang dirawatnya selalu tumbuh subur dan berkembang. Namun sayang, ayahnya terlalu cepat dipanggil Tuhan. Hingga akhirnya tanaman-tanaman itu nyaris tak terurus dan seolah merasakan kepergian tuannya. Tanaman itu hampir mengering, sama seperti air mata ibu Sarman yang kehilangan suami tercinta. Tapi lantas sang ibu sadar, tak ingin berlarut dalam luka kepedihan dan kehilangan. Maka tanaman-tanaman di depan teras rumah itu dirawatnya sebagai keabadian tanda kasihnya kepada sang suami.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menumbuhkan kembali gairah hidup seorang wanita yang usianya mulai uzur ditinggal suami. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebatang tanaman hias tumbuh berkembang dan berdaun lebat. Ibu Sarman melakukan itu dengan penuh cinta. Merawat, menyirami, memberikan pupuk, dan membersihkan lembar-lembar daun dari debu. Semua dilakukan ibunya dengan setia, seolah ayahnya turut mendampingi dan mem­perhatikan. Barangkali ayah di ‘alam sana’ akan tersenyum jika melihat tanaman-tanaman hias itu tumbuh semakin lebat dan menyejukkan, batin Sarman.

Itulah yang membuat hati Sarman terharu, setiap kali memandangi ibunya dan tanaman hias yang semakin berdaun lebat di teras rumahnya. Diam-diam hati Sarman mengagumi akan besar rasa cinta ibu kepada ayahnya. Hingga di masa pensiun dari guru SD saat ini, ibunya nyaris menghabiskan waktu hanya untuk merawat tanaman-tanaman itu sepanjang hari, seolah tanaman itu dapat diajak berbincang tentang seribu cerita kenangan masa lalu.

Tapi Sarman tahu, kenangan masa kecil tak akan pernah kembali. Kenangan di masa-masa gemilang hanyalah seperti bingkai foto yang tergantung di ruang tamu. Hidup seperti sebuah gelombang. Naik dan turun seperti alur daun tanaman tersebut. Kenangan saat-saat di mana ayahnya memanjakannya sebagai anak semata wayang tak akan pernah ia miliki lagi. Kini kehidupan terus menggelinding, hanyut dalam sebuah gelombang di mana Sarman harus tetap menjalaninya. Menghidupi ibunya, isterinya, dan kedua anaknya yang masih kecil.

Belum lagi memikirkan uang sekolah anaknya yang sulung, susu untuk si bungsu, atap rumahnya yang mulai bocor di sana-sini, tagihan listrik dan masih banyak hal yang harus dipenuhi. Kini, giliran barang kebutuhan pokok melambung, seolah ritual tahunan memasuki bulan puasa. Sesungguhnya setan memang punya banyak nama yang akan terus mencobai manusia dan bersembunyi di balik problematika dalam segala ranah kehidupan Sarman.

“Mas, aku dengar tanaman hias yang dirawat ibu sekarang harganya bisa puluhan juta,” ujar Sarti ketika kedua anaknya telah lelap. Malam telah berangsur sunyi ditingkah suara jangkerik.

“Iya, aku juga tahu dari Burhan temanku. Tanaman itu tiba-tiba menjadi sangat diminati banyak orang,” Sarman menimpali sembari matanya masih tak lepas dari surat kabar yang sudah kadaluwarsa.

“Mas, aku ingin bilang, tapi mas jangan tersinggung.”

“Ya, ada apa?”

“Mas, tahu kan kondisi keluarga kita? Setiap hari kebutuhan kita semakin bertambah, harga-harga melambung dan gaji mas hanya cukup untuk makan dan bayar sekolah Ima.”

“Lantas?” Sarman tahu arah pembicaraan Sarti. Sarman sebenarnya juga mulai gelisah, setiap bulan puasa menjelang tiba, keadaan rumahnya seolah benar-benar sedang mengalami ujian. Harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan senantiasa melambung setiap tahun, sedang gajinya sebagai buruh pabrik plastik tak pernah naik untuk mengimbangi kenaikan harga-harga kebutuhan. Jangankan kenaikan gaji, bahkan tunjangan hari lebaran saja terkadang harus didapat dengan berdemo di depan pabrik. Sudah tidak adakah tulus ikhlas berbagi rezeki bagi kaum jelata? batin Sarman seraya melemparkan pandangan pada langit-langit kamarnya yang bocor.

“Kalau, Mas Sarman tak bisa mencari penghasilan sampingan. Aku pikir, tanaman hias di depan teras itu bisa menjadi solusi untuk melunasi hutang dan mencukupi kebutuhan kita, Mas,” Sarti melontarkan kalimatnya. Sarman mengalihkan tatapan pada wajah istrinya.

“Tapi, tanaman itu sangat berarti bagi ibu,” Sarman menimpali dengan nada setengah tak percaya. Dia tak akan setega itu meminta ibu untuk menjual tanaman itu.

“Aah, apalah arti kenangan jika kita kesulitan mencari makan!” tukas isterinya sembari membalikkan punggung di tempat tidur, membelakangi Sarman.

Malam menggelincir sunyi.

BEBERAPA hari kemudian, Sarman mencoba membujuk ibunya untuk menjual tanaman hias itu. Ibunya yang terlihat semakin renta seolah tak mendengar ucapannya. Jemari keriput itu masih setia membersihkan debu yang menempel di lembar-lembar daun. Baginya, dua pot tanaman yang kini daunnya menyentuh langit-langit itu tak bisa dinilai dengan setumpuk uang. Terlalu banyak lembar kenangan tersimpan pada setiap lekuk gelombangnya. Terlalu banyak kepedihan yang dirasakan jika harus kehilangan sesuatu yang telah menjadi simbol dari rasa cinta kepada suaminya.

Hari-hari pun menggelinding seperti roda mesin. Hiruk pikuk dan bising. Orang semakin santer membicarakan perihal tanaman yang sedang menjadi booming itu. Di setiap sudut kota. Di balik meja kantor, orang-orang berdasi bicara spekulasi bisnis tanaman. Di ujung gang, supir becak ngoceh tentang tanaman yang laku dijual jutaan. Di rumah-rumah, ibu-ibu arisan ngerumpi tentang biji tanaman yang dibeli hingga ratusan ribu. Telinga Sarman terasa gatal. Tak habis pikir, di saat mencari sesuap nasi begitu sulit, banyak orang malah tak segan mengeluarkan berlembar uang hasil keringat untuk membeli daun.

Akhirnya Sarman mengambil keputusan untuk menjual tanaman milik ibunya sebelum booming itu mereda dan tanaman tersebut kehilangan harga. Paling tidak, dua pot tanaman di depan rumahnya bisa laku empat puluh juta seperti kata temannya, Burhan. Apalagi beberapa orang kolektor sempat melirik tanaman yang mulai tumbuh tongkol-tongkol buahnya tesebut, dan menawarnya dengan harga tinggi.

Namun ibu Sarman masih menggelengkan kepala ketika seorang pebisnis tanaman datang kerumah­nya mencoba membelinya dengan harga empat puluh juta, tunai. Perempuan sepuh itu hanya bergeming tanpa menoleh pada tas koper yang berisi lembaran uang kertas. Ibu Sarman masih tetap setia pada pendirian untuk tidak menjual tanaman peninggalan suaminya.

“Saya tidak akan pernah menjual cinta dan kenangan saya pada siapa pun,” ucapnya lirih. Kedua matanya menatap tanaman hias itu, seraya seperti biasa membersihkan debu yang menempel pada lembar-lembar daunnya dengan lap kain.

ATAS bujukan isterinya, akhirnya Sarman berbuat nekat. Malam telah larut waktu itu. Sarman dibantu isterinya bermaksud memindahkan dua pot tanaman hias itu ke sebuah mobil bak terbuka yang ia sewa. Sebelumnya, tanaman tersebut ditutup dengan kertas koran hingga ke ujung daunnya yang menyentuh langit-langit. Mereka dengan dibantu seorang supir pocokan berniat mengirimkannya ke rumah seorang kolektor.

Namun ketika mereka akan mengangkat pot tanaman yang berat tersebut. Sebuah mobil Panther berhenti di depan rumah. Dari mobil tersebut empat orang laki-laki berbadan besar merangsek masuk ke teras rumah. Mereka dengan bengis mengacungkan senjata tajam kepada Sarman dan isterinya serta supir pocokan. Sarti nyaris menjerit tapi mulutnya segera dibungkam oleh salah satu perampok.

Ketiga perampok lainnya mencabut tanaman itu dengan paksa hingga keluar dari pot. Mereka lalu mengusung dua tanaman itu dan menimbunnya kedalam mobil. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Sarman mencoba melawan, namun sebuah pukulan benda tumpul mengenai kepalanya hingga terjerembab. Pandangannya kabur dan tergeletak.

Esok paginya Sarman siuman. Para tetangga yang mengerumuninya telah memberikan pertolongan. Sarti tampak masih terkulai tak sadarkan diri. Dengan dipapah dua orang tetangga, Sarman dituntun masuk ke dalam rumah. Teras rumahnya terlihat sangat berantakan. Pandangannya menyapu ruangan tamu mencari-cari wajah ibunya.

Seorang tetangga akhirnya memberitahu Sarman, bahwa ibunya meninggal karena serangan jantung. Ibunya ditemukan para tetangga dalam keadaan tak bernyawa di teras rumah. Wanita sepuh itu sempat terbangun dari tidurnya karena keributan di teras, jantungnya berpacu serupa derap kuda tatkala mendapati mendapati perampok-perampok itu membawa lari hasil rampokan. Kemudian sontak ia terkulai melihat anak dan menantunya tersungkur di lantai. Wanita berumur itu akhirnya tak dapat menyangga tubuh rapuhnya dan jatuh tergeletak di antara pot tanaman anthurium kesayangannya yang telah kosong.

Tiba-tiba kepala Sarman serasa berputar. Dengan tatapan nanar, dia meraung-raung menangisi ibunya yang terbujur di dalam kamar. Sarman tak pernah menyangka cobaan hidup akan seberat ini, dan kini dia semakin menyadari setan bisa menjelma apa saja untuk menggoda hati manusia ketika menjelang bulan puasa. ***

TENTANG PENULIS

Ary Wibowo – Lahir di Surakarta, 28 September 1975. Desainer grafis yang juga menulis cerpen dan puisi. Karyanya pernah dimuat dalam buku Antologi Cerpen Perdamaian: Metamorfosa Cicak di Atas Peta (2003), Antologi Puisi: Dian Sastro for President #2 (AKY, 2004), situs www.cybersastra.net, surat kabar Bengawan Pos, 4 Kumpulan Cerpen Kriminal dari sayembara menulis cerpen Femina 2006, buletin sastra Pawon, serta salah satu karyanya pernah diteatrikalisasikan di Taman Budaya Jawa Tengah-Surakarta sekaligus terangkum dalam Dokumentasi Sastra Seri Antologi Cerpen: Joglo 3 (TBJT, 2007). Baru-baru ini karyanya terpilih dalam 14 cerpen terbaik dari sayembara penulisan yang diadakan oleh Penerbit Escaeva, yang dibukukan dalam antologi cerpen Tembang Bukit Kapur pada Januari 2008. Saat ini penulis tinggal di Surakarta dan bergiat dalam komunitas sastra MejaBolong.

E-mail: arik_wib@yahoo.com

Alamat: Sudiroprajan RT 03 RW 07, Jebres, Surakarta 57121.

HP. 081 393 684 800

SAJAK-SAJAK WIDANINGRUM

Juli 22, 2008

kerdil

kata yang terucap dari mulut ini tiada makna yang tersirat
bibir ini hanya mampu
mengeluh,menghujat, menghina, dan meremehkan
tangan ini bukan tangan perkasa
bukan untuk mengubah dunia
menjaga diripun tak kuasa

kaki ini, kalah! tak mau melangkah
berhenti dan akhirnya tenggelam ke ruang hampa
air mata ini hanyalah air mata dusta
hanya mengalir untuk mengiba

hati ini
masih bisakah untuk merasa?

biarkan air mengalir
ia kan beri kehidupan di setiap jalan yang dilaluinya
biarkan angin berhembus
ia kan beri kesejukan di antara panas dan penatnya dunia
biarkan lilin tetap menyala
terangnya akan hempaskan gulita
meski ia sendiri kan sirna dan sendiri

jangan biarkan luka kecil tetap menganga
karena ia kan hancurkan semuanya
jangan biarkan api kebencian bersemayam di jiwa
karena ia kan jadi racun yang membinasakan

biarkan segala cinta tetap ada
tanpanya, dunia terasa hampa
biarkan semua berjalan apa adanya

Tak Semestinya

seorang anak bingung dan bertanya pada ibunya
kepada siapa ia memanggil bapak
puluhan anak yang masih harus dimanja
berjalan di bawah panas dan teriknya dunia
meminta dan mengiba kepada semua yang ditemuinya
menyuarakan kecabulan untuk beberapa recehan

para perempuan berjalan di tengah malam
mengumbar badan
untuk dimakan atau memakan tikus kelaparan

para perempuan berjuang
membanting tulang
menginggalkan si upik yang masih perlu didulang
sementara,
para lelaki bersembunyi dan mempercantik diri
ongkang-ongkang di atas kursi
menunggu datangnya sesuap nasi
dari tangan sang istri

para perempuan menjerit
menangis, menahan luka, menutup aib suami

anak-anak bingung mencari tumpuan
akhirnya, ugal-ugalan
banyak yang jadi preman
tak jarang yang jadi umpatan orang

tak semestinya
tatanan dan aturan Tuhan
kita ubah dan tak kita jalankan


widaningrum
seorang pengajar di SDIT Insan Kamil karanganyar
tinggal di jungke RT 03 RW III karanganyar
saat ini sedang belajar mencintai sastra

SAJAK-SAJAK SITI MASITOH

Juli 22, 2008

Pekuburan Ayah

Aku malu menengok pekuburanmu, Ayah

Anakmu kini sudah tinggi, tapi masih juga mbocahi

Dulu kalau aku nakal, sambil senyum kau selalu bilang :

”Suk nek gedhe ra nduwe bojo”

Tapi sekarang aku baru belajar merajut hati

Ceritamu dulu tak pernah patah hati. Jodoh sudah di tangan Ilahi

Aku malu menegok pekuburanmu, Ayah

Apalagi kadang aku lupa mengirim yasin dan tahlil untukmu

Dulu aku selalu di pangkuanmu saat selepas maghrib kau lantunkan ayat dengan tersendat

Kini mulut dan hatiku pun terkunci

Sebait doa sulit kusinggahi

Aku malu menengok perkuburanmu, Ayah

Meski dalam mimpi-mimpi kau mrimpeni

Sekolahku belum lulus kini

Meski simbok sudah capek ngragati

Ah, Ayah…

Maafkan anakmu ini

18 januari 2007

07:00 PM


Masih juga Dibohongi

Bocah perempuan terkatung-katung di ayunan

Gaun putih menyiratkan keabadian

Bersama debu mengubur impian pada langit-langit benderang

”Ini di mana mama?”, katanya

Sebutir keheningan seolah jawaban

Dan waktu yang melenggang membodohi kenyataan

”Sabarlah nak, ayahmu masih di perjalanan”

Mungkin jika telah tiada petang ia datang

15 Januari 2007


Hanya Karena Aku

Aku sudah menyiapkan jawaban

Meski dengan spontan jiwamu bertanya tentang keadaan

Aku sudah menulis pertanggungjawaban

Meski konsekuensi hatimu mempertanyakan

Hanya karena aku percaya

Bahwa kesaksian adalah pelita

Dan bumi terbangun dari jiwa-jiwa

14 Januari 2007


Dari Ruang Perjalanan

- tuk dia yang melukis mimpi. Setapak yang penuh bunga menghiasi

pun bebatuan alam yang menyembul menutupi sebagian tanah berkerikil

Mengeja hari dalam huruf-huruf yang tertulis pasti

Angin tak ujung berhenti berhembus pergi

Lepas dan tak terkendali. Setia menapak demi setapak hingga telapak berhenti merasa

Lihatkah, begitu lambat perjalanan ini karena setiap detik langkah berhenti tuk menengok kemballi sejarah yang terukir. Kembali

Tuk jongkok menghapus setiap jejak-jejak yang melukiskan kepedihan

Sekejap itu pula mata menatap masa depan yang masih dibuntuti oleh kenestapaan

Seperti bebasnya bayang-bayang terbang dengan seutas tali yangn tersimpul mati. Maka ke mana ia berlari

Diri telah membacanya melalui angin bergelombang

Katakanlah, demi sebuah kepayahan dari setiap keringat yang menetesi perjalanan

Bahwa hari yang kulingkari akan bermuara pada bumi jua. Bagai setia air

Yang membanjiri lautan yang di dalamnya tertenggelamkan diri. Dengarlah bisikan

Cita-cita yang memberi iming kemuliaan, kebahagiaan, kesempurnaan

Sukseslah sang awan memberi hujan

Bunuhlah dirimu…bunuh dari segala peragu yang menyumbat jantung dan tenggorokanmu

Tiupkan seperti bara yang memerah dan buat terjaga. Karena kemeranaan

Pada kedalaman diam telah melumpuhkan

Dan kemalasan tuk menyapa

Dunia masih terbanting oleh perasaan-perasaan yang membuat tergigil. Seperti daun kering terhempas angin

Kepasrahankah ?

Atau kerelaan akan ketidakberdayaan

Eloknya perjalanan tercipta dari sebiji benih. Tiada kekhawatiran pada ujung yang memberinya kehidupan. Pada sayap-sayap yang menaburkan rahmat.

Sebab bumi tak enggan memberi

17 April 2006

Obrolan Suatu Malam

Malam ini seorang sahabat menemani ngobrol dalam ruang kost

Ngemil keripik singkong dan segelas besar teh tubruk klangenan

Sambil leyeh-leyeh memijit lutut pegal sehabis jalan-jalan

Kadang tawa tersisa hening

Luruh, larut dalam tanda tanya besar kehidupan

Lalu apa hubungannya dengan keadilan Tuhan dan makna-makna yang terbaik pada peristiwa?

Sebab hidup adalah kenyataan di balik balon-balon impian yang sengaja dilendungkan dan bisa meletus kapan saja memusnahkan semua impian

Dulu impian datang bersama seseduh kopi

Hitam yang selalu tersaji

Insan-insan lelah hidup dalam kepahitan

Mata seorang sahabat masih saja menerawang

Di kejauhan kedamaian ruang masih kerasan di hati

22 januari 2007


Siti Masitoh adalah….klik www.lontar-online.blogspot.com aja

SAJAK-SAJAK Mivthach. MA

Juli 22, 2008

Sampah

dan Tikus

para pemulung bergegas menuju terminal sampah

setelah melihat seorang lelaki mendorong gerobak

lalu menumpahkan sampah

bukan berlian tapi menjadi rebutan

mereka memang pemulung tapi di sakunya ada hp Nokia

dan di kupingnya ada headset

yang perempuan di leher dan di jarinya ada kilauan emas

mereka pulang pergi mengendarai motor

seorang gelandangan mendatangi tempat itu

diambilnya kardus nasi kotak

dimakannya nasi basi dan roti yang berselai alami

padahal itu jatah untuk tikus

yang juga ikut makan bersama

tikus itupun tak jera

walau jatahnya sudah diembat manusia

dengan lenggang ia berjalan santai

manusia tak dihiraukannya

karena manusia juga tak menggubrisnya

manusia tak takut tikus

tikus tak takut manusia

apalagi pada kucing

karena kucingnya sendiri

malah menjadi garong

tikus perutnya gendut

tak kuat berlari

walau setengah mati takut pada manusia

takut pada kucing.

Flamboyan No. 22

Di depanmu kuminum air mataku

Saat tanganmu menggenggam erat tanganku

Aku berharap selendang batik yang menyelimutimu

Tak berubah warna menjadi putih

Katamu kau sedang menunggu padi menguning

Dan menanti calon cucu pertamamu dari anak putrimu

Setelah panen kau ingin menjemur padi

Sesekali menggendong cucumu

Tapi mengapa kau malah tidur-tiduran di ranjang lapuk ini?

Maafkan aku, karena panen nanti tak bisa membantumu

Aku lebih senang hidup di perantauan

Kakiku tak betah berlama-lama lagi di lumpur

Ia lebih suka memakai sepatu

Dan berjalan di atas keramik

Begitu juga dengan tanganku

Sudah lama bercerai dengan sabit

Tanganku terbiasa menggenggam pena

Dan lebih fasih menghitung uang

Saat kau datang mengunjungiku

Ingin kubakar peci dan baju koko-mu

Sandal jepitmu pun ingin aku buang ke tong sampah

Aku sempat malu punya ayah seperti bapak

Terakhir, kau membangunkanku jam setengah tiga dinihari

Mulutku mengutukimu

Padahal kau tahu jam satu aku baru sempat tidur

Kau minta dibelikan obat

Obat apa ?

Ah, bapak kau tak mengerti anakmu ini juga butuh obat

Ya, obat untuk tidak pusing karena bapaknya

Setelah dapat obat

Kau minta dikerokin

Setelah minta dikerokin

Kau minta dipijitin

Bapak…

Besok aku harus masuk kerja pagi.

Di ruangan ini

Aku ingin menangisi kebencianku padamu

Aku tak lagi benci Bapak

Aku tak malu punya ayah seperti Bapak

Grobogan-Solo, 27 April 2008

Mivthach MA, Mahasiswa UNU Surakarta

SAJAK-SAJAK FAJAR

Juli 22, 2008


Kematian

Kalian Tanam kematian di kebunku
Beribu-ribu kematian beribu-ribu tahun
Kalian patahkan pohon kamboja yang kutanam di kebunku
Kematianku pun bukan milikku
Kutunggu tak datang-datang

Dan anyir bau mulutmu
Hitam-hitam isi kepalamu
Tumpas…tumpaslah
Inikah lukisan di tanah merdeka???

Malam-malam setelah menonton ’sinengker’,1 Juli 2007


……………………..

Adalah benar mereka lupa membuatkan tempat tidurku di bawah jembatan layang lumayan teduh.
Tapi …Siapa melemparku ke tepi jurang?
Mungkin aku sendiri
Mungkin kawan seperjalanan
Mungkin jiwaku sendiri yang lalai menahan tubuhku yang lunglai
Mungkin tubuhku sendiri yang menyeret jiwa ku ke dalam tubir-tubir gelap

Mungkin mataku sendiri yang lupa melihat sayap-sayap pada kakiku yang lunglai. Mungkin aku sendiri yang lupa bahwa hidupku tak sekedar berjalan,…tapi juga terbang dengan isi kepalaku, terbang dengan rohku

Lebak Bulus, Juli 2007


Dunia

Aku melihatmu dengan mataku
Engkau melihatku dengan matamu
Tak masalah….boleh-boleh saja
Matahari memancar dari kepala, rembulan dari pelupuk mata kita
Sama kita berbagi…tak akan habis.
Meskipun pemakan rembulan belum beranjak …alu bertalu-talu memukul kepala supaya ia lekas pergi
Percaya saja.
Kita bentangkan hati kita di halaman rumah kita
Sama bermain kita di
sana, menghabiskan malam, menerbangkan mimpi-mimpi semanjak kita kanak-kanak
Bekal kita bangun pagi-pagi buta.
Kita terbangkan pikiran-pikiran,
Kepakkan sayap di kakimu yang puntung
Kibaskan sayap di kakimu yang bengkok
Tetap saja kita berlari
Dunia kita cuma satu….
Dunia serupa lempung, tempat kita main-main dulu
Kalau kita membaginya menjadi dua
Kita Cuma bisa saling memandang dari kejauhan
Saling merindukan,…mungkin
Jiwa kita sunyi,..mungkin saja

Kalau dunia kita jadikan bejana,
Kita seduh pagi aroma kopi
Berbagi mimpi yang kita hidupi sepanjang malam tadi
Satu meja sebelum habis hari ini.

Mrican, 17 Juli 2007



Waktu pagi, ketika kita dibangunkan dari mimpi, matahari sahabat kita dalam perjalanan sudah siap bergegas-gegas. “mari kita lanjutkan perjalanan. Kalian ingin lihat hal-hal yang paling ajaib di ujung cakrawala itu bukan?”. Tentu saja, kawan! Kami adalah bagian dari keajaiban. Sudah barang tentu kami merindukan sahabat kami, keajaiban itu” berangkatlah kita meninggalkan embun yang perlahan-lahan bangkit dari lelapnya seperti kita tadi malam. Sampai jumpa di ujung cakrawala kawan, kataku kepada embun. Kita mengecup embun dengan aroma pagi sebagai tanda perpisahan untuk sementar waktu. Kurasa ini bukan perpisahan yang menyedihkan.

Katamu, “ Aku tak suka perpisahan, bahkan perpisahan yang sejenak sekalipun”. Apakah yang engkau maksud adalah satu titik di mana kita harus saling pergi meninggalkan? Atau saat-saat panjang dimana kita tidak saling ada untuk kawan kita?” Bukankah ketiadaan itu tak pernah ada diantara kita kawan? Rumus semacam itu tak ada bagi pengembara. Seorang pengembara seperti kita akan selalu ada dimana-mana untuk sahabat kita, bahkan meskipun kita berada di ujung dunia yang berbeda. Satu di ujung paling timur dan satu lagi diujung paling barat. Kita pengembara bukan? Oleh karenanya kita akan ada di mana-mana. Kita bukanlah orang-orang yang yang suka diikat oleh waktu juga tempat-tempat yang kita singgahi bukan?

Pringwulung, 6 Maret 2005



SAJAK-SAJAK BENO WIDODO

Juli 22, 2008

PERSELINGKUHAN

( Episode sang pengkhianat-1 )

Rentetan waktu selalu memberi pilihan-pilihan

Pilihan menjadi cermin sikap, komitmen dan tujuan hidup

Dia tidak bisa memungkiri dari kasat mata sahabat, kawan atau keluarga

Sumpah yang kita ucapkan untuk bersama memperjuangkan nasib

Adalah ikatan indah di tengah cibiran dan ancaman dari orang berdasi

Terurai menjadi pilar-pilar penyangga perjalanan kita

Tengah hari perjalanan kita, terik membakar jiwa

Gersang tanah tempat berpijak dan keringnya kerongkongan

Adalah keindahan berharga didesah resah

Godaan dan rayuan adalah juga pilihan

Kursi empuk dan ruang berAC, juga dengan gaji gede

Membawaku untuk meninggalkan semua

Meninggalkan semua komitmen dan sumpah

Meninggalkan keindahan-keindahan dalam kebersamaan

Meninggalkan semua pengertian dan menjadi musuh bersama pilihan kita dahulu

Tengah hari perjalanan, sesaat kuhirup udara AC dan gaji gede

Sesaat kunikmati kursi empuk dengan menjadi robot majikan

Sesaat saja semua telah kutikam untuk amannya posisi

Sesaat memang telah menghancurkan semuanya,

Semua komitmen, sumpah dan pilihan-pilihan

Dan sesaat itu pula perselingkuhanku membuahkan hasil

Pilihan sesaatku telah mengantarkan pada kenistaan

Sesaat kunikmati kemewahan dan sesaat itu pula berakhir

Seiring hancurnya kebersamaan, akupun di PHK

Sesaat memang hanya sesaat

Apa yang kubisa kunikmati dari perselingkuhan nista ini

Semua kawan pergi dan waktu tiada yang bisa kembali

( Rancekek, 1999, Koeli yang tak mau diakali. Untuk Sop, Ar, Nd, BB dalam K-97 )

Baru dan Hilang

(Episode sang pengkhiat-2)

Dua bulan telah kuterima jabatan sebagai supervisor,

Hebat….gengsiku naik dihadapan banyak orang,

Gajiku ikut naik….

Telah kubeli sepeda motor impian,

Dan rumah mewah untuk ukuran pekerja pabrik,

Plus kudapatkan selingkuhan baru……

Ini bulan ketiga, banyak kudapatkan hal yang baru

Tetapi aku menjadi sepi, kawanku pada pergi

Irikah mereka ?……

Ohhh..ternyata tidak, mereka masih menyapaku

Mereka masih menengokku saat aku tidak masuk kerja

Mereka perhatian memberiku obat dan nasehat

Aku baru sadar, yang hilang adalah ingatan sehatku

Janjiku untuk bersama memperjuangkan hak,

Telah kuingkari menggantinya dengan jabatan

Kini, aku terpenjara

Dalam keputusan besar yang salah

Segala yang baru telah menghilangkan nilaiku sebagai manusia

(Rancaekek feb-2000, Koeli yang tak mau diakali. Untuk Sop, Ar, Nd, BB dalam K-97)

DI UJUNG SENJA DI SIMPANG JALAN

( Episode sang pengkhianat-3 )

Lembayung mengejekku, apa yang kau punya sekarang?

Bertahun tahun mengabdikan diri pada majikan

Menyerahkan tenaga, pikiran dan waktu,

Mencibir kawan yang dikecewakan majikan,

Manjadi anjing penjaga yang patuh setia

Kini, kau dilempar seperti sepah ketempat sampah

Terkucil membuat bangun kesadaranku.

Kesalahan besar mengabdi pada keserakahan,

Aku mengumpat tak menjawab,

Tangis anak dan tatap nanar istri

Lebih menggairahkanku, untuk mengatakan

Besok makan apa? besok anakku mau jadi apa?

Mentari mengintip digaris langit, sambil mengingatkanku

Mengapa kemarin kau penurut, menjilat dan mau ditipu

Kau memisahkan dirimu dari kawan kawanmu

Mengapa kemarin kau diam saat ditindas,

Menyingkirkan kaum duafa pada kenistaan,

Dan melupakan bahwa kaum duafalah pemimpin terpilih

Aku tak mampu mengeja lagi, bahkan bergumampun

Diperempatan ini menjadi sandaran hidup

Menanti tangan menaruh kasihan, dibawah sinis kedip mata

Sampai malam menjelang dan pagi tiba.

Tiada yang bisa dibanggakan sedikitpun oleh pengkhinat kaumku sendiri

Sejarah sekalipun tak pernah memaafkanny

( Rancaekek 080801, Koeli yang tak mau diakali )

Watak diri

Kebimbangan adalah pertentangan dalam diri

Setiap sikap yang diambil adalah cermin watak diri

Apakah mengikuti watak penindas atau tertindas

Penindas mencari untung sendiri dengan segala cara

Yang tertindas selalu melawan, penuh setia kawan

Semua kita pertanggung jawabkan dihadapan massa dan sejarah

(Rancaekek, 020100, pada titik 00.15)

PERTEMUAN

Setiap Pertemuan selalu ada makna yang terpendam

Entah bagaimana kita mengartikannya

Perjalanan ini hanya sesaat, sangat singkat

Untuk kita bisa mengurai menjadi cerita indah

Datang dan pergi adalah keharusan sejarah

Maka, menghadapi yang ada dan menjalaninya dengan keyakinan

Adalah keharusan pula

Kenangan-kenangan adalah bunga-bunga

Yang tak bisa kita gapai dalam alam nyata

Dia hanya bisa kita hadirkan dengan Pertemuan

(Teruntuk Sahabatku: Mirah dan Laras Ati, feb-2000)

NOTONOGORO

Juli 22, 2008



Cerpen JO PAKAGULA

Ende, 1935

Bocah kurus itu menyusuri jalan setapak yang menurun, meninggalkan jejak kepulan debu. Rumput nyaris sekarat kadang terinjak oleh kaki mungilnya. Dayat, nama sang bocah lugu ini, terus melangkah menuju Wola Wona, sebuah sungai tempat warga kampung mandi di musim kering. Hampir mendekati sungai, seseorang berkaos oblong dan berselempang handuk tengah berjalan pelan berlawanan arah dengannya. Ketika berpapasan, lelaki jangkung dan gagah itu tersenyum hangat. Dayat membalas nyengir, takut-takut.

“Mau mandi ya Dik?” tanya pria yang sangat ganteng itu ramah. Jarinya sempat mengelus rambut Dayat yang hitam kecoklatan.

Bocah polos ini mengangguk, terpaksa. Dia berusaha mempercepat langkahnya dan segera menceburkan diri di air dingin. Dayat ingat, itulah pertemuan pertamanya. Teman-teman sebaya senantiasa berpesan – setengah berbisik – jangan pernah bergaul dengan orang buangan dari luar daerah itu, tanpa menjelaskan alasannya. Yang pasti, mereka dilarang oleh orangtua masing-masing bermain di sekitar pondok tempat lelaki itu bermukim.

Beberapa bulan kemudian, Dayat mendengar kabar wanita renta salah seorang anggota keluarga lelaki itu meninggal. Penasaran, Dayat melihat dari dekat. Beberapa tetangga tampak hadir membantu, sebagai tanda penghormatan. Itu pertemuannya yang ke dua. Dia jadi tahu, pondok sederhana beratap ilalang itu juga dihuni seorang wanita anggun, mungkin isterinya, dan seorang gadis cilik, barangkali putrinya atau entah siapa. Usia gadis itu barangkali tak terpaut banyak dengannya.

Perkenalan Dayat yang sesungguhnya baru terjadi di kebun kelapa suatu malam. Lelaki itu tampak membimbing beberapa penduduk lokal untuk berlatih sandiwara. Dayat sudah mengenal sebagian dari mereka. Kesan Dayat, pria itu senang berkawan dengan orang-orang miskin. Ada tukang jahit, nelayan, sopir, pemetik kelapa, singkatnya, rakyat jelata. Begitu asyiknya mengintip, Dayat tidak sadar ada sosok berdiri tepat di sampingnya. Bahunya ditepuk.

“Ngintip ya?” tegur orang itu.

Dayat tersentak, secara reflek matanya berpaling ke arah asal suara. Wajah orang itu tampak jelas di bawah purnama. Ganteng, lelaki itu! Dayat berniat ambil langkah seribu, tapi kalah cepat. Tangan lelaki itu berhasil mencekal lengannya.

“Sini, sini dulu,” suaranya seperti menghipnotis, tetap dalam nada ramah.

Dayat menurut saja ketika dituntun ke tempat latihan di tengah kebun. Matanya sempat menengok ke langit, terlihat lambai nyiur dalam belaian lembut angin laut, dengan latar belakang bulatan perak. Sungguh paduan alam yang indah sekali. Para lelaki yang sedang berlatih itu serius memperhatikan anak kecil pemberani ini.

“Saya ingin tanya dulu. Siapa nama adik, kalau boleh tahu?”

“Dayat.”

“Lengkapnya?”

“Hidayat Sejati.”

“Wah, nama yang bagus. Hidayat itu berasal dari bahasa Arab, hidayah, bermakna petunjuk. Sejati punya arti asli, sebenarnya atau sesungguhnya. Bagus, bagus! Mudah-mudahan adik selalu mendapat petunjuk yang sebenar-benarnya. Sekarang, mungkin adik ingin tahu nama saya?”

Dayat mengangguk. Dia heran, lelaki gagah itu seolah bisa membaca pikirannya. Dan, ah, di depan lelaki itu rasanya memang sulit untuk menggeleng.

“Nama saya Soekarno. Panggil saja saya Bung Karno.”

Dayat kembali mengangguk. Matanya yang bening menyiratkan keinginan untuk mengutarakan sesuatu, namun mulutnya rapat terkunci. Dan sekali lagi, lelaki ganteng itu bisa menangkap apa yang melintas dalam benaknya.

“Mau lihat latihan, boleh! Ini namanya kelompok sandiwara Kelimutu. Siapa tahu adik nanti bisa bergabung dan menjadi pemain sandiwara jempolan. Sini, duduk sini!”

Dayat tersenyum, bahagia.

“Tapi ingat, lelaki pantang takut. Kali ini ceritanya tentang Dokter Setan.”

Dayat kontan bergidik, hanya sejenak, lalu hilang. Hatinya kembali tenang, karena ada Bung Karno di dekatnya.

***

Yogyakarta, 1959

Pagi ini, Dayat mendengar dari radio berita kematian Ki Hadjar Dewantara. Dia yakin, hampir semua penduduk Kota Gudeg pasti tahu, bahwa tokoh pencetus falsafah luhur – ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani – ini, pastilah orang besar dan sangat pantas mendapat penghormatan. Maka bulatlah tekadnya, untuk ikut mengantar ke tempat peristirahatan terakhir.

Usai menunaikan pekerjaannya, Dayat melangkah ke arah Taman Wijaya Brata. Menurut penyiar RRI tadi pagi, tokoh yang memiliki nama asli R.M. Soewardi Soerjaningrat ini akan dikebumikan di sana siang ini. Tatkala tiba di pemakaman, suasana masih sepi. Beberapa orang tampak sibuk dan mondar-mandir.

Dayat memutuskan menunggu di bawah naungan pohon asam. Sesekali dia memanjatkan doa, mohon agar arwah mantan Menteri Pengajaran yang pertama ini diterima di sisi Tuhan. Tanpa jasa beliau, mana mungkin dia sempat mengenyam bangku sekolah, kendati sebetulnya tak genap dua tahun di Sekolah Rakyat. Dayat tersenyum sendiri, mengenang nasib yang menggiringnya menjadi tukang sapu.

Meski tergolong sebagai pegawai rendahan, hal itu tak lantas membuat Dayat bermalasan. Justru sebaliknya, Dayat merasa harus bersyukur karena tenaganya masih dapat dimanfaatkan. Karena pendidikan pula Dayat jadi tahu, lelaki ganteng di kampungnya dulu, kini telah menjadi Presiden yang sangat disanjung rakyat. Sekarang dia pun mengerti, wanita tua yang meninggal waktu itu adalah ibu Amsi, mertua Bung Karno. Dua wanita lain yang mendampingi Bung Karno adalah isterinya, Ibu Inggit dan putri angkatnya, Ratna Djuami. Wah, Dayat jadi tahu banyak, sangat banyak. Sekali lagi, karena pendidikan.

Tak berapa lama setelah Bung Karno meninggalkan Ende, keluarga Dayat pun pindah ke Jawa. Neneknya dari pihak ayah, meninggal. Setelah melalui musyawarah keluarga, mereka mufakat menetapkan ayah Dayat sebagai anak yang diberi amanat untuk menempati dan memelihara rumah peninggalan nenek. Rumah kayu model joglo berhalaman luas, dengan beberapa pohon sawo yang besar dan rimbun.

Seseorang menghampiri Dayat dan membuyarkan lamunannya.

Nunggu pemakaman, Mas?” tanya orang itu memecah kebungkaman.

“Ya, Mas sendiri?”

“Sama, tampaknya sebentar lagi dimulai. Rombongan tentara sudah datang tuh,” sambung pemuda berkumis tipis itu. Dayat mendekat, ingin menyaksikan lebih jelas.

Upacara pemakaman berlangsung begitu khidmat. Jasad pendiri Taman Siswa itu telah dikebumikan. Dayat masih berdiri menenteng sapu di tepi jalan keluar area pemakaman. Beberapa tentara kelihatan bergegas pergi, lewat di depannya. Dan Dayat terkejut, ketika mendadak seorang perwira gagah, yang tadi menjadi inspektur upacara, berhenti tepat di depannya.

Mas, tolong makam ini dirawat dengan baik ya!” katanya penuh wibawa.

Dayat termangu. Mulutnya sudah mau berkata bahwa dia bukan petugas pembersih makam. Namun ancang-ancang kalimat itu tertelan kembali. Sedetik kemudian, perwira itu memberikan sejumlah uang kepadanya, dengan begitu santunnya. Dayat diam terpana, dan tak sempat mengucapkan terimakasih.

“Kau tahu siapa perwira tadi ?” tanya seorang tentara pengawalnya. Dayat menggeleng.

“Dia Soeharto, Panglima Diponegoro.”

***

Jakarta, 2002

Petang itu, seorang lelaki penuh keriput duduk di kursi malas seraya mencermati sebuah berita di televisi swasta. Anaknya yang sukses berbisnis persewaan mobil belum pulang. Biasa, dia kerap lembur. Di rumah ini, hanya Karin yang betah berlama-lama ngobrol dengannya. Siswi kelas sebelas SMA ini memang dekat dengannya. Paling tahu cara meladeni eyang serapuh dirinya.

“Yangkung, ini ada marneng, mau?” candanya menggoda sang kakek.

Yang disapa ‘Yangkung’ cuma tersenyum. Anak ini memang usil, tapi baik, serta gemati. Kakek tua itu kembali menyimak warta. Meski ketajaman matanya jauh berkurang, tapi minatnya masih tinggi untuk mereguk informasi.

Nduk, tahu nggak kamu, siapa yang sedang muncul di teve itu?” tanya sang kakek kepada Karin. Cucu kesayangannya ini segera menatap tokoh kharismatik di layar kaca.

“Itu…seorang Menteri, Yangkung. Perwira Tinggi TNI Yangkung.”

“Iya, maksud Yangkung namanya siapa?”

“Siapa ya, lupa sih. No.. yono. Ya, pokoknya nama belakangnya pakai no.”

“Jadi benar!”

“Apanya yang benar Yangkung?”

“Kakek pernah bertemu dengannya. Bahkan ikut berebut dan berdesakan agar dapat berjabat tangan dengannya, waktu jalan pagi di sekitar Monas.”

“Monas?” suara Karin penuh keheranan.

Indonesia tampaknya akan kembali ke jalur yang benar,” lanjutnya membuat sang cucu semakin tidak mengerti.

“No-to-no-go-ro,” eja kakek tua lirih.

“Makanan apa itu Yangkung?”

“Sudahlah, meski kakek terangkan kamu nggak akan ngerti.”

“Tapi Karin kan jadi tambah penasaran.”

“Begini, sebelum Soekarno menjadi Presiden, dulu, sudah lama sekali, kakek pernah bertemu dengannya. Begitu pula Soeharto, sebelum menjadi Presiden pun kakek pernah bertatap muka dengannya di Yogyakarta. Dan saat bertemu dan bersalaman dengan Menteri yang tadi, kakek merasakan persis seperti perasaan kakek waktu bertatap muka dengan Soekarno dan Soeharto. Aneh, kan?”

“Maksud kakek, Menteri itu kelak akan jadi Presiden?” tanya Karin spontan. Kakek hanya tersenyum tanpa jawaban.

Seminggu kemudian, pria berambut putih keperakan itu menghembuskan napas terakhir. Karin disuruh ayahnya untuk merapikan bekas kamar kakek, sekalian menyelamatkan segala macam peninggalan kakek yang kira-kira berharga.

Ketika sedang membereskan barang-barang milik kakek itulah dia menemukan sebuah map hijau berisi lembaran-lembaran kertas dengan tulisan tangan. Karin tahu itu tulisan kakek. Di map tertera: notonogoro. Karin mengernyitkan alisnya.

“Yangkung memang suka berkhayal, dan kadang aneh !” komentarnya singkat.

Karin tak tahu dan tak pernah ingin tahu. Sementara almarhum kakeknya hingga akhir hayat juga tak sempat tahu, bahwa notonogoro sudah kuno. Yang masyhur kini notobirahi…

— oOo —

Tentang Penulis:

Jo Pakagula yang di kampung menjabat ketua RW ini tinggal di Ngamban Rt. 01 Rw. 07 Buran Tasikmadu Karanganyar. Selain aktif di HPK Ayo Nulis, lelaki yang sangat “ANti KORupsi” ini memrakarsai berdirinya Tascakra (Komunitas Pembaca Karanganyar) serta terjun dalam beberapa organisasi sosial non partisan. Punya hobi membaca dan menulis.

SAJAK-SAJAK ALOYSIA KEY PITULUNG

Juli 22, 2008

TERLAHIR BUKAN UNTUK PISANG

gerimis serupai tangismu

mendung pun mewakili murungmu

hujan berkala memandang di ufuk nurani

bertoreh pilu sesak menatap sendu

aku ini terlahir bukan untuk pisang lirihmu

sekedar terlahir juga tak jua untuk pisang

“aku ini bukan selokan liur biadapmu,” serumu

sekedar matipun tak mau mencongkel mata lirihmu

seliput kabut tebalpun menari

tak jua memasuki kehampaan hatimu

sekali lagi gelegar pertir dari mulutmu bersumpah

seketika suara jangkrik mengkerik lirih dari bibir tipismu

gerimispun masih menghujani nadimu

dan sekali lagi kau bersenandung

aku ini terlahir bukan untuk pisangmu

sekedar matikupun tak sudi

ruang kreasi, 2008

JIWA YANG BERSEMAYAM

Hai, jiwa yang bersemayam

Kenapa kau masih saja terlelap?

Tak lihatkah kau kaki ini berpeluh darah kesakitan?

Bermil-mil laskar hati menerjang perih dan asa

berjuta-juta malam logika berjuang melawan ketakutan

Oh, jiwa yang bersemayam

kenapa kau tak bangun jua?

bangun! bangun berjuang bersama kami!

berjuang untuk mengembalikan harga diri manusia ini

manusia yang telah alfa ini

manusia tempat kita berpijak ini

manusia kita yang merapuh

manusia yang penuh dengan derita

manusia dengan skat hati berduri

dimana logika hampir mati

dengan perasaan yang kian meleleh

oh jiwa yang bersemayam

Bangunlah segera SEKARANG!

selamatkan manusia ini

aku ini sang rasa dari manusia ini

mereka panca indra pun bersiap diri

tak lupa kepala kaki dan kelamin

bersama aku sang hati

bersama juga dia logika

kita hadapi semua gelombang kehidupan

sekali lagi, bangunlah jiwa yang bersemayam

ruang kreasi, maret 2008

IJINKAN AKU TELANJANG

sesak sudah semua di tubuh ini

biarkan kulempar sepatu ini

tempat langkah menapaki kobangan

hitam pekat dan melumut

biarkan kulepas tali rambutku

kugunduli saja mahkota kebohongan ini

karena semua tak lagi percaya pada kedudukanku

biar saja kulepas jaket dingin sedih ini

biar tak lagi aku menggigil ketakutan tersurung sepi penyesalan

biar saja aku melepas kaos dan rok panjang

biar tak lagi ada keculasan yang berlindung dibawahnya

kulepaskan pula kutang dan cawat ini sekalian

karena itu pula tameng semua kehancuran

biar saja aku seperti ini

gundul telanjang dan apa adanya

biar saja semua melihatku berlari dipantai

mendengar teriakan kejujuranku

biar saja aku mendaki tanpa alas

karena aku ingin bersahabat dengan alam yang tak pernah culas

biar saja aku telanjang seperti ini di mall

tanpa membeli topeng kepalsuan

baju kebohongan

cawat dan kutang kelicikan lagi

aku ingin telanjang tanpa beban

biarkan saja aku terlihat apa adanya

boyolali,2008

HARI INI BERWARNA APA?

rasanya merah merona sehari kemarin

birupun juga masih teras sekalipun sudah seminggu

sedang putih kini sudah tak terasa lagi

coklat, masih saja dia menyelam bersama merah

tak pernah ada warna yang sama

setiap hari, bahkan setiap detik

selalu saja tak ada yang benar-benar satu warna

bercorak dan saling bertabrakan

aku tak pernah bisa mengenal satu warna dalam hidupku

karena setiap hati dan menit terasa berbeda

terbangun berharap kan selalu coklat

namun apalah daya jika sehari penuh hitam

kini aku tak mau lagi berharap akan warna

karena sekali lagi

dalam hidupku terlalu banyak warna

lalu, apa warna sisa hari ini ya?

solo, juni 2008

JOURNEYED SO FAR TO BE WITH YOU

Juli 22, 2008

cerpen FAJAR AYUNINGTYAS

Pukul tujuh pagi. Detik ia menatap gelas bening bergaris merah itu, sebuah rasa aneh hinggap tiba- tiba, yang seketika menghentikan ketukan jarinya pada keyboard. Terbayang paras Winar. Ia memejam sejenak. Menghalau. Kelebatan peristiwa tak akan membuatnya mampu menyelesaikan apa yang sudah dimulainya sejak satu jam yang lalu. Ia tak akan berhenti sekarang sebab ia tak akan pernah mampu menyelesaikannya nanti. Sebuah kebiasaan. Betapa berhenti akan menghapus semua ide segar di kepalanya. Maka jarinya kembali menari di atas keyboard. Persetan dengan Winar. Sekuat apapun paras eksotik itu melibas waktu dalam kepalanya. Ia akan menemuinya nanti sesuai janji tanpa pernah tahusemua takkan berjalan sesempurna itu.

Tujuh koma lima kilometer darinya, seorang gadis bercelana jeans dan jaket kulit yang dikancingkan menutup leher, berdiri di halte bus. Sembab langit yang bergerimis membuat kesan indah seperti cuplikan adegan film; seorang perempuan menunggu kekasihnya di halte bus. Tapi Winar tidak sedang menunggu kekasihnya. Ketika bus kota dengan iklan sabun mandi berhenti, ia bergegas masuk. Rambut lurusnya berkibar ketika bus melaju dan angin meniupnya dari jendela kaca yang terbuka.

*

Ia resah. Berkali-kali matanya singgah pada gelas bening di atas meja. Semalam diseduhnya kopi Lampung oleh-oleh dari temannya. Sisa ampas mengendap kehitaman di dasar gelas. Entah kenapa semalam ia lupa menandaskan ampas kopi itu, biasanya ia meminum kopi beserta ampas-ampasnya. Ketukan jarinya berhenti lagi. Layar monitor dipandangnya seolah memandang kapal di kejauhan dari tepi pantai. Telepon selulernya berdering. Lengking gitar Yngwie dalam Like An Angel mengembalikan kesadarannya. Pesan.

Smua yg g mgkin bs jd mgkin jika dipaksa. Kdisiplinan jg bentuk paksaan kan?

Apakah cinta jg dipaksa?

Ya. Dipaksa oleh cinta itu sndiri.

Pukul setengah delapan. Pantai berdebur di luar jendela. Ia berjalan ke jendela. Menyibakkan tirai dan menikmati lanskap favoritnya, impiannya sejak kanak-kanak; berumah di tepi pantai. Ombak berkejar-kejar ditingkah gerimis. Ia benar-benar tak mampu melanjutkan draft dalam komputer. Kepalanya mendadak kosong. Sh*t!. Ia meninju birai jendela. Ini kali keberapa betina itu membuatku kesal?

Rutinitas tanpa kenikmatan. Cuci muka. Makan sereal coklat bola-bola dengan susu putih. Minum jus instan. Puntung rokok dan botol bir masih bertebaran, sisa kawan-kawannya nonton bola tadi malam. Hampir subuh tadi kawan-kawannya baru pulang. Ia terlelap dan bangun pukul enam, menyalakan PC untuk ide yang tiba-tiba memberontaki otaknya. Tapi pagi ini betina itu menggagalkanku lagi! Ia menelan sereal dengan susah payah.

Satu tahun lalu ia mengenal Winar. Mahasiswi jurusan komputer. Rambutnya yang lurus tersapu angin di jendela bus kota sore itu. Menggerakkan sesuatu di hatinya, hingga berlama-lama memandang dan tersadar ketika kondektur menyenggolnya meminta ongkos. Terlalu banyak kebetulan di dunia ini, ia yakin bahwa kebetulan juga yang membawanya kembali bertemu Winar dua minggu kemudian, di dalam bus kota yang sama, suasana yang sama, angin yang sama. Kali ini ketika mata mereka bersitatap, ia tersenyum. Gadis itu membalas. Terbayang Monalisa di dinding kamarnya. Saat penumpang di sebelah gadis itu turun ia memanfaatkan situasi. Duduk bersebelahan. Deretan puisi cinta yang dihafalnya mulai mendesak-desak. Tapi ia memutuskan ini bukan saat yang tepat kecuali ingin dianggap sebagai orang aneh. Jadi ia cuma bilang:

“Kau seperti Monalisa.”

“Da Vinci?”

Gadis itu tersenyum penuh rahasia. Lalu menambahkan di akhir senyumnya.

“Da Vinci membuat orang bertanya-tanya apa arti senyuman Monalisa…”

“Tapi ia cantik, kan?”

“Monalisa tak hanya memiliki kecantikan perempuan, entah kenapa Da Vinci menambahkan garis maskulin di wajahnya.”

Ia angkat bahu. Untuk sebuah perkenalan, perbincangan ini lumayanlah.

“Aku Angin”

“Namamu aneh. Winar.”

Dentang jam beker yang dipasangnya untuk pukul delapan tepat berdering nyaring. Ia nyaris terlonjak sebelum akhirnya menyumpahserapahi jam beker warna perak di atas lemari es. Merapikan sisa sarapan seadanya, lalu bergegas menyambar handuk. Beberapa detik kemudian terdengar teriakannya membaca puisi keras-keras di kamar mandi.

*

Winar turun di depan sebuah gereja kuno. Ia menarik jaket kulit di pergelangan untuk melihat jam tangan. Pukul delapan. Masih ada satu jam lagi dari waktu yang disepakati. Gerimis sudah berhenti. Ia memutuskan menunggu di bangku taman gereja itu. Ia tahu Angin akan tiba-tiba muncul seperti biasanya. Di manapun mereka sepakat bertemu, Angin akan muncul dari sudut yang tak disangkanya. Winar mengitarkan pandang ke seputar halaman gereja, menduga-duga kelak dari mana Angin akan muncul. Ia tak akan menghubungi ponsel Angin sekarang. Ia penyuka kejutan. Ia tak pernah tahu kejutan kali ini tak akan seperti biasanya. Winar bersenandung. Like an angel you came to me and now I see – the stranger in me is finally free to feel true love**.

*

Ia membutuhkan lima menit untuk mandi. Termasuk di dalamnya memikirkan kalimat selanjutnya dari tulisan yang tengah digarap tadi. Separuh pikirannya yang lain melayang pada Winar yang mungkin saja telah tiba di tempat yang dijanjikannya untuk bertemu. Ia selalu datang lebih awal. Betapapun betina itu mengesalkanku, sh*t, aku mencintainya! Ia menutup pintu kamar mandi dengan satu bantingan keras. Betapa aku mencintainya! Dan betapa ia begitu skeptis terhadap penulis!

Monalisa itu, suatu senja mengusik kedamaian di antara mereka. Hanya sesaat setelah suratkabar yang memuat tulisan Angin dilempar pengantar koran di halaman rumahnya.

“Kau mencintaiku, kan?”

Ia mengangguk. Tak mengerti mengapa pertanyaan itu meluncur dari bibir Winar.

“Berhenti menulis.”

Dua kata yang dirasakannya seperti sambaran petir di siang bolong.

“Alasan?”

“Mereka dekat dengan kebiasaan buruk. Merokok, minum, tak kenal waktu, tak kenal ruang. Hidup di wilayah abu-abu. Kadang berbahaya.”

“Tak semua.”

Winar menyebut nama penulis-penulis penyabet award, yang merokok, minum, bergaul demikian bebas bahkan ketika sedang diwawancara televisi, ada juga yang melepas jilbab setelah jadi penulis. Ada yang dibunuh. Dibuang ke pulau terasing.

“Kau suka lukisan. Artinya kau penikmat seni. Aku tak mengerti. Menulis juga seni, Winar, hanya menyatakan diri dalam kalimat-kalimat dan imaginasi, bukan warna dan garis seperti lukisan. Lagipula tak semua penulis seperti kau kata itu”

“Aku memaksamu.”

“Apa yang tak mungkin tak bisa dipaksa.”

Ia menggumam sambil berpakaian. Kelebatan peristiwa seperti itu selalu membuatnya kehilangan ide di tengah-tengah menulis. Persetan dengan Winar! Betina itu tak akan membuatku berhenti menulis. Ia merancang kata-kata dalam menit yang tersisa. Ia mampu menemukan sesuatu yang tepat, biasanya, dalam keadaan mendesak. Seperti malam itu ketika artikel dan gambar-gambar bertebaran di kaki kursinya. Kepalanya pening sekali, sebotol bir sudah tandas ke perutnya. Ia memejamkan mata, membayangkan semua yang ada di sekitarnya. Lalu seperti kaleidoskop, peristiwa berlaluan di kepalanya membawanya pada satu penemuan penting yang sangat mengejutkan. Lalu seperti kesetanan ia mengurutkan artikel-artikel, gambar-gambar. Tertawa keras dan puas sebelum jemarinya menggila di atas keyboard. Pagi hari berikutnya di surat kabar nasional terungkaplah jaringan penjualan gadis-gadis ke luar negeri yang melibatkan seseorang, yang sebulan lalu dicopot jabatannya. Ia puas menyaksikan hasil pencariannya selama beberapa bulan. Ia mengatakan pada Winar, ia menulis puisi, cerita-cerita pendek, essay, tapi menulis di wilayah berbahaya membuat adrenalinnya terpacu lebih deras. Puas.

Ia melirik gelas bening di atas meja. Semalam ia memilih kopi daripada bir yang dibawa dan ditawarkan oleh kawan-kawannya. Gelas bening bergaris merah pemberian Winar. Untuk mengganti botol bir, katanya. Ah, Winar sedang menunggu. Hanya butuh tujuh menit untuk sampai di gereja kuno itu. Ia menyambar kunci sepeda motor dan setengah berlari menuju pintu.

*

Winar masih bersenandung. Burung gereja bercicit-cicit di lubang angin. Hawa pagi setelah gerimis begitu segar. Bau rumput. Winar menghirup dalam-dalam seolah ia tak akan menghirupnya lagi esok hari. Ia selalu takut kehilangan waktu-waktu penting dalam hidupnya.

Pukul sembilan kurang tujuh menit..Dari arah mana Angin akan muncul? Ia telah mengenalnya setahun ini. Ia mencintainya. Ia mencoba memahami kepuasan Angin meskipun khawatir telah salah mencintai orang yang hidup dengan kebiasaan begadang berteman komputer, rokok dan bir, dan menulis sesuatu yang bisa saja kelak membahayakan dirinya. Okey lah, aku tak akan menyinggung apapun tentang menulis hari ini.

*

Pegangan pintu baru saja ditariknya. Ia terdorong ke belakang.

*

Winar melihat jam tangan. From heaven I knew you were born. On the wings of love you were brought to me. I’ve been longing for truth, journeyed so far to be with you**

*

Sebuah kekuatan lain di luar pintu mendorong masuk. Dan satu detik berikutnya pintu kembali tertutup rapat. Kilatan itu menghentikan arus pikirannya pada Winar.

*

Pukul sembilan empat puluh menit. Ponsel Winar berdering. Dalam gelisah ia membuka pesan. Setengah hari kemudian, orang-orang menemukannya masih duduk di sana memandang matahari memasuki gerbang pulang.

** )Penggalan lagu Like An Angel, Yngwie Malmsteen

FAJAR AYUNINGTYAS, perempuan dari Kulonprogo. Mungkin gadis yang sederhana, tetapi mungkin juga lebih rumit dari yang dikira. Entahlah. Tetapi dia aktif di komunitas terheboh di daerahnya, namanya Lumbung Aksara.

Belati, Kupu-Kupu, dan Telaga

Juli 22, 2008



cerpen HANS GAGAS

Aku melihat kupu-kupu di matamu, ketika kita berbincang singkat itu. Aku hendak menatap lebih dalam tapi tiba-tiba seorang lelaki sudah berada di sampingmu dan mencekal lenganmu kuat-kuat. Seketika nampak kupu-kupu itu terbang oleh genangan air yang mengembang di matamu. Dan kerontang cemas merubungi wajahmu.
Tubuhmu ditarik untuk berbalik, lalu kalian berjalan memunggungiku. Sepasang kupu-kupu terbang berkitaran di udara. Kupu-kupu itu mengapung diantara bunga-bunga di sepanjang taman yang kau lalui. Sepasang kupu-kupu cantik berwarna pelangi dengan rona biru yang kuat menancap-namun mengepakkan kerapuhan-sedang beriringan di atas bunga-bunga Lavelis, terbang mengitari kepalaku. Mereka susur meninggi, dan tenggelam oleh lintasan kabut pagi dan gerumbulan daun pohon.
Aku mengenang peristiwa sekejap tadi. Saat badanku terhuyung karena kau menubrukku, hingga meninggalkan kenang wajahmu yang muram. Raut muka dan mata menjadi keping kesan membenam dalam di benakku.
“Maaf…” ucapmu, dan kupu-kupu itu menyala indah sayapnya.
“Tak apa.” Sekejap aku melihat kupu-kupu itu mengatup dan beku.
Kau menoleh ke belakang dan kulihat lintasan matamu yang berubah.
“Anda seperti ketakutan…”
………………………..
Seorang lelaki mencekal lenganmu kuat-kuat. Kupu-kupu di matamu terbang terusir ke udara.
***
Aku melihat nyala kilat memancar di matamu ketika kita bersitatap, dan matamu seperti melepaskan belati yang merajam hatiku. Mencacah-cacahnya, namun aku tetap menjaga diri agar setenang telaga.
“Sialan!!”
Sebenarnya aku yang lebih berhak mengumpat. Kau yang nyelonong, dalam gegas menabrakku.
“Brengsek!!” Kau lantas menatap tajam mataku. Dan belati itu menusuk-nusuk mataku. Jantungku bergolak. Dadaku terguncang. Aku tak terbiasa dengan sesuatu yang tajam dan melukai.
Setelah puas mengumpat! Kau pergi begitu saja memunggungiku. Punggung yang sama persis dengan punggung lelaki yang menyeret perempuan bermata kupu-kupu.
***
Jika terpaksa, aku memakai belati untuk menata taman ini. Memotong ranting-ranting kering dan tangkai daun yang alot. Taman sepanjang cagar budaya kota ini menjadi sesuatu yang harus aku dandani, rawat, dan hiasi secantik mungkin.
Pagi sebelum mentari menyalak terik, biasanya pekerjaanku sudah selesai. Taman sudah indah ditatap para pejalan kaki. Agar meringankan keluh-kesah mereka karena penatnya pekerjaan atau kecamuk rumah tangga yang meresahkan. Taman segar juga kuharapkan bisa mengendurkan urat syaraf dan melupakan sejenak harga-harga barang yang membumbung tinggi. Sulitnya ekonomi dimana-mana selalu menjadi hal yang paling menyusahkan. Paling tak tertahankan.
Aku selalu menatap taman asuhanku ini lamat-lamat dan menangkap keindahan emasnya saat angin pagi atau sore menghembus lembut, meliukkan ranting daun dan bunga, membuat kelok dahan dan membuat kupu-kupu menari indah. Air dalam kolam berpendar, menyisir sebagian parasku, memberi kesan dingin dan segar. Kecipak burung sriti menyambar terbang rendah, menjauh dan kembali lagi. Burung-burung gereja berhamburan dari balik pohon dan sekelompok merpati mengepakkan sayap menjaring udara. Aku cinta saat-saat itu. Hingga aku kehilangan kesadaran ruang, dan tiba-tiba seseorang menubrukku.
Bukan hanya seseorang. Di hari yang sama. Seorang perempuan lembut bermata kupu-kupu dan seorang lelaki tegap bermata belati.
***
Aku melihat telaga yang teduh di matamu. Seketika, rasa tenang membasuh lukaku. Membuatku ingin lelap dalam kesunyian berdenting itu. Sungguh. Kalau saja lelaki ini tak secepat itu menemukanku, aku akan memohon padamu, mengibakan diri untuk kau ajak aku pergi. Ke duniamu. Ke rumahmu.
Sudah demikian sering aku bersitatap dengan lelaki, dan baru kali ini menemukan mata sebening telaga. Seperti kemurnian yang tak terabakan. Selalu, aku melihat belati di setiap mata lelaki. Entah dengan kilatan merayu, menguasai, atau mengelabui. Juga kadang, mata merah menyala-nyala dengan semangat membara namun muncul kilatan-kilatan kekejaman yang tak berupa.
Dan malam adalah waktu dimana mata merah demikian kuasa merajam tubuhku. Terutama lelaki ini, ia tak hanya bermata belati tapi semua rupa kelam diborongnya sekaligus. Kalapnya selalu meradang ketika melampiaskan hawa amarah di sekujur tubuhku, menjengkangkan kerapuhan jiwanya pada tubuh letihku. Menancapkan jarum-jarum kekecewaan hatinya yang telah patah menghadapi dunia. Aku lelah…
Sedang pagi, selalu terkepung oleh aroma alkohol yang memusingkan. Setiap kuterbangun hanya kelam ruangan dengan matahari benderang di luar. Tirai tebal begitu kuat membendung cahaya. Bau tembakau menguar ke mana-mana. Botol-botol terguling. Selimut silang-sengkarut. Di sana-sini nampak jejak becek sepatu.
Lelaki yang telah membersamaiku lima tahun ini menelungkup dengan dada turun-naik. Ingin di kala tidur yang demikian nyenyak itu, aku mencekik lehernya. Atau menghunuskan sebilah belati ke perutnya. Namun setiap hendak melakukannya, selalu keringat dingin mengucur deras, jantungku berdetak tak karuan, dan tubuhku tiba-tiba lemah, kepalaku pusing dan dunia berubah menjadi gelap. Aku tak bernyali.
Ia telah membuatku tiga kali hamil, tiga kali melahirkan, dan tiga kali duka tak tertanggungkan. Tiga anakku tak pernah mampir digendonganku. Sehabis bayiku menengok dunia, segera seseorang telah mengambilnya sambil meninggalkan segepok uang di tangannya. Hatiku perih, dan ia menambahinya dengan membawa perempuan-perempuan ke dalam rumah. Karena itulah aku tak lagi sanggup menanggung beban berat ini. Lari walau aku dicap angkara dan penoda kelambu perkawinan.
***
Semula berawal dari khayalan. Aku gadis belia kota yang memuja segala cahaya cantik dan tren: mall, mode, musik. Setelah pergantian berkali-kali, akhirnya kutemukan ia yang memenuhi luapan harapanku, dan bakal memenuhi segala khayalku.
Yang bibit, bobot, bebet itu yang usang. Yang tampan, yang menyenangkan itu yang sekarang. Ia memenuhi itu semua. Tapi memang waktu membongkar semua, seperti kisah klise yang berulang. Atau cerita teve yang menjengkelkan. Harapan dan khayalan tak pernah sejalan.
Setelah hidup serumah aku mulai menemui berbagai keganjilan. Dulu aku terlalu cepat mengenyahkan kepekaanku tentangnya. Sejak awal aku menangkap kilatan aneh di matanya. Dan waktu makin kejam menggerusku.
“Aku mau pergi!”
“Kemana?”
Ia hanya mengangkat bahu lalu pergi begitu saja. Terdengar deru mobil menggilas halaman, dan suaranya makin menjauh. Senyap mengurung. Sepi malam demikian meratap. Malam meninggi. Kekosongan mengurung kuat-kuat. Gigil malam terasa makin hampa.
Kalaupun pulang, luapan alkohol menyembur, wajah yang kelu lalu dengkur menggelegar. Jika tidak, wajah garang menerjang, melumati tubuhku, memuaskannya dengan gelap mata, lalu tidur dalam erangan.
“Aku hamil!” teriakku dengan semangat. Dan, ia hanya memandangiku saja. Hanya memandang-acuh, dan tersenyum beku. Segera, berkelebat kilatan aneh di matanya.
Duka makin menggunung di bahuku saat anakku lahir, ia paksa bawa pergi. Dan duka itu berulang. Khayalan seperti belati yang menghunus jiwaku tiap hari. Makin gulita dan buram. Sejak, perempuan berganti-ganti ia bawa pulang, aku seperti tiada. Dan tak kuat lagi untuk bertahan. Benarkah Tuhan memilihkan buramnya hidup untukku? Benarkah manusia tak mampu melepas nasib petaka yang mengikatnya kencang?
Sejak pelarianku pertama yang ia gagalkan itu, tekadku bertambah kuat. Apalagi ketika bertemu denganmu, seorang pemahat taman yang bermata telaga. Sebelumnya aku tak pernah percaya ada lelaki yang memiliki cahaya ketulusan di matanya. Dan aku telah menemukannya di matamu, ada senyum lugu di sana.
Aku berlari merindukan mata telagamu. Mata yang memberiku ketenangan dan rasa teguh.
***
Aku bergegas ke jalan penuh bunga dan menemukanmu dengan dada penuh getaran. Air mataku menyibak menatap bening telaga matamu. Sinar tulus menentramkan hatiku. Aku memohon kau mengajakku ke dunia indahmu. Aku ingin merasuki jiwamu.
Aku tergeragap menatap matamu menyongsongku. Kupu-kupu itu mulai lincah berkitaran di matamu. Rindu membuncah menemui obatnya. Tanganmu membuka, sorotmu memohon. Aku gamang. Dimana pemilik mata belati? Aku begitu ingin mengajakmu ke dunia yang indah. Dimana pemilik mata belati? Aku ingin mengajakmu ke duniaku!
…………………………
Sepasang kupu-kupu berkitaran di udara, namun sebilah belati dengan sigap menebas keduanya. Tubuh keduanya mengejang, hancur, terbawa angin hingga berkeping-keping lalu rontok ke dalam telaga. Telaga itu menelannya, memuntahkannya dalam remah bulu yang rapuh.

Rumah3Bayang, Mei 07

Tentang penulis:
Han Gagas, cerpennya pernah dimuat Koran Sindo, Majalah Gong, Solopos, antologi cerpenis terpilih Joglo, antologi Cinta Pertama, Ceritanet, dan lain-lain. Pemenang kedua lomba cerpen Komunitas Senja, Fak. Sastra, Universitas Andalas Padang 2007 dan peraih nominee Sayembara Cerpen UNS Solo 2008.

BABU BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN

Juli 22, 2008

cerpen SIPATU MERAH


05.10
Selimut tidur yang masih mengonggok ditepi pagi dibiarkan menggumpal, sembari menggeliat dengan mata yang masih terpicing. Tubuh lemah itu mulai menggapai jendela dan angin pagi ini masih terlalu dingin. Aku harus segera bangun, biarkan tubuh letih ini mengayunkan langkah pada kamar mandi sempit yang sudah temani hampir dua tahun.

05.17
Sikat gigi dan odol mampir ke mulut berbibir tebal, tapi aku menyukai bentuk mulutku. Tidak terlalu tipis jadi sesuai dengan bentuk muka yang juga tidak terlalu manis, tentu sangat sesuai dengan hidung setengah mancung dengan bekas jerawat batu yang tidak pernah berhasil aku jinakkan.
Suara jam dinding di ruang tengah masih nyaring di telinga. Ah, aku tidak menyukai jam dinding itu. Detak alunan jarum selalu mengejar semua hari yang kulewati.

05.25
Sudah dua hari ini sabun khusus muka habis dan setiap aku mandi perlengkapan itu selalu saja kucampur sedikit air agar sisa yang menempel di dinding botol sabun bisa keluar bersama campuran air. Segarnya mandi ini hari menghapus semua keletihan semalam yang belum tertebus dengan tidur.
Selembar kertas yang kuterima minggu lalu dilapangan rumput masih aku simpan. Setiap akan tidur aku baca berulang untuk tahu makna yang menjadi pesan.
“Ayo berjuang!!”
“Tunjukan kekuatan kita!!“
“Buruh bersatu tak bisa dikalahkan….”
Sudah sering aku menerima selembar kertas di trotoar jalan. Ketika pergi ke pasar, atau ketika mengantar anak majikan sekolah. Tetapi kemarin ketika aku terima selembar kertas dengan sederetan kalimat yang disampaikan si pembawa selebaran sebelum aku sempat membacanya, karena biasanya aku membuang begitu melewati bak sampah.
Seketika yang muncul dalam benak ini, apa maksud dari tulisan itu, biasanya menawarkan pulsa, atau tempat makan atau penawaran kredit barang atau salon sedang diskon dan seabreg tawaran yang kita akhirnya mengeluarkan uang untuk itu semua. Tapi selebaran ini sungguh menusuk pikiranku. Aku cuma babu disini. Bagaimana bersatunya? Lalu untuk apa bersatu? Tiap minggu kaum babu disini sudah berkumpul dan bersatu di lapangan rumput yang luas di pusat kota. Segala macam kegiatan ada.
Yang aku tahu babu adalah pekerjaan yang rendah, kita para babu saja malu mengakui hingga sering aku dan teman babu yang lain lebih suka disebut pembantu rumah tangga. Aku sungguh terusik dengan beberapa babu lain yang membuat selebaran yang sekarang ada di dapur kerjaku.
Ketika Mas Jono datang ke rumah bahwa PT yang sekarang bagus pasti cepat berangkatkan orang ke majikan, begitu janji dia. Sepulang dari Arab Saudi aku sudah kapok untuk menjadi babu lagi. Tapi anak-anak butuh makan dan sekolah, tanah tidak subur, suami kadang bekerja. Setiap masuk masa tanam pasti terjerat hutang bibit dan pupuk.
Tiga bulan di penampungan aku setia menunggu. Katanya mau diajarin bahasa Hong kong, ternyata hanya diajarin bangun pagi yang sudah aku jalani seumur hidup, lalu dititipkan ke orang kaya di sekitar penampungan. Praktek katanya. Aku sadar itu cuma muslihat, tapi aku cuma calon babu yang mencari majikan dengan perantara PT.
“Ayo berjuang!!”
“Tunjukan kekuatan kita!!”
Aku ingin tanya ke mereka para babu yang membuat selebaran ini. Aku harus tahu kenapa kita disuruh berjuang lagi. Buku pelajaran sekolah dasar bilang Jepang sama Belanda sudah diusir oleh pejuang 45, lalu kita akan berjuang untuk apa? Aku di sini, cuma seorang babu, kalaupun bersatu hanya kumpulan para babu.

05.30
Masih belum bangun penghuni yang lain. Biar aku beresin sebentar rumah ini. Alas tidur mesti kugulung sebelum pergi. Aku harus pakai baju apa ya, musim panas ini kaos dan celana pendek lebih simple.
Gantungan baju seberang flat masih belum diangkat dari kemarin. Apa disana tidak punya babu ya? Atau babu disana sudah pergi karena tidak kerasan. Kesenanganku paling suka melihat dari jendela flat untuk tahu keadaan sekitar, mungkin hujan atau cerah hari ini. atau melihat jalan ketika siang orang sudah ramai menyusuri hari.
Kaos katun yang kubeli dipasar mongkok seharga 20 lumayan juga. Kemarin aku lihat dipasar ada yang memakai kaos dibelakangnya bertuliskan “buruh bersatu tak bisa dikalahkan”. Sama dengan yang dipakai pembawa selebaran yang akan kutemui nanti di taman kota. Aku ingin mengusulkan kenapa tidak “BABU BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN”. Tapi siapa aku kenal dengan mereka para pembawa selebaranpun tidak, sudah mau usul macam-macam. Bisa dianggap sok tahu nanti.

06.00
Hari ini ga usah bawa bekal makanan. Nanti aku bisa beli dari teman yang jualan ditaman. Hitung hitung membantu teman yang membutuhkan banyak tambahan penghasilan untuk keluarga mereka yang mungkin sangat membutuhkan. Ah, aku terperanjat dengan pikiranku keluarga dikampung yang membutuhkan dari penghasilan kita bekerja menjadi babu disini.
Siapa saja sebenarnya yang membutuhkan penghasilan kita? Keluarga kita membutuhkan. Suami, anak-anak, orang tua, adik-adik dan oh, ya para agent dan juga pemerintah negara kita. Mereka juga sangat membutuhkan penghasilan kita. Banyak teman-teman ketika pulang ke Indonesia menjadi khawatir ketika akan melewati terminal tiga. Memang ada hal yang aneh ketika kita berangkat tidak melewati terminal tiga, tapi ketika pulang kita dipaksa melewati terminal tiga. Aku pernah ketika tahun kemarin pulang dan digiring lewat terminal tiga.
Para penjaga di Bandara Soekarno-Hatta sudah menunggu dan mengawasi setiap perempuan. Mereka dengan bawaan banyak langsung diperiksa dan dilihat pasportnya. Ketika ketahuan TKW langsung penjaga dengan mata berbinar entah apa maksudnya. Para TKW itu dipaksa harus lewat terminal tiga. Padahal kita sama dengan penumpang pesawat yang lain. Tetapi ketika turun dan melewati penjaga, kita sudah mendapat diskriminasi. Padahal pemerintah sudah mendapat banyak dari kami kaum TKW yang bekerja di luar negeri, karena negara tidak mampu memberikan lapangan kerja.

06.20
Tut..tuttt.ttuuut…. Dering hpku dari teman yang akan berangkat bareng ke taman kota.
“Ya…, sebentar aku turun,” jawabku
“Aku tinggal pake kaos kaki, kamu bawa bekal apa?” tanyaku
“ Pedes nggak mie-nya?”
“ Palau kurang pedas biar aku bawa saos, hehehehe…”.
“ Ok…tunggu bentar ya….”
“ Ya..bay..bay..”

06.25
Pintu lift terbuka dan hanya membawa aku sendiri. Mungkin penghuni gedung ini masih banyak yang terlelap. Hanya kaum seperti kami saja yang sudah terbangun.
Ini hari libur kami, kaum babu di negeri ini mendapatkan libur satu kali dalam seminggu. Dan akan kami gunakan untuk melepas penat setelah bekerja dalam rumah sempit selama enam hari tanpa henti.
Hari ini akan menjadi hari baru buatku. Dan aku mengajak seorang teman untuk ikut. Aku bertemu dengannya di pasar ketika dia berjalan sambil menangis. Ketika kutanya, “apa sampeyan dari Indon?” Dia jawab dengan mengangguk. Lalu kutanya kenapa menangis, dia menjawab dengan tangisan yang lebih dahsyat. Aku bingung. Sambil ku ajak dia duduk, kami berkenalan dan dia mengutarakan masalahnya.

06.35
“Warti…, sorry ya nunggu lama.”
“Ga papa, Mbak,” jawabnya, sambil membenarkan letak tas punggung kecilnya.
Dia terlihat manis dengan kaos ketatnya dan celana tiga perempat. Di atas hidungnya yang mungil nangkring kaca mata hitam. Semakin keren saja. Pasti kalau orang Indon lihat kami, mereka tidak mengira kalau kami adalah kaum babu.
“Kita akan bertemu teman baru yang kemarin aku ceritakan di telpon.”
“Iso mbantu keluhanku nggak yo, mbak.”
“Wis mengko melu ngobrol wae…” jawabku
“Mbak Sutini, percoyo karo selebaran sing diwoco tho?” tanya dia memastikan.
“Iki lho selebarane,” jawabku sambil kusodorkan selebaran yang sudah kubaca bolak-balik, tapi masih menimbulkan banyak pertanyaan.
“ooo, iki tho….”
“Kowe yo wis terima selebaran iki?” tanya ku
“Durung, Mbak.”

07.11
Dari exit E2 di Causewaybay kami berjalan menuju taman. Masih sepi jalannan yang kami lewati. Para pejalan kaki yang belum banyak ini kebanyakan adalah kaum kami, para babu yang sedang berlibur untuk bertemu dengan teman dan keluarga atau sekedar jalan-jalan memamerkan pakaian yang mereka punya. Karena aku ketika pertama punya sepatu boot tinggi juga melakukan hal yang sama.
Aku ingin lekas bertemu dengan kelompok pembawa selebaran. Aku ingin tahu banyak dari mereka. Kenapa mereka membuat selebaran ini dan apa yang bisa mereka lakukan dengan mengajak kaum babu untuk bersatu. Dan dari mana mereka mendapatkan pikiran seperti dalam selebaran yang aku baca. Kenapa ketika aku pertama ke sini belum pernah mendapatkan selebaran seperti ini dan sekarang selebaran ini ada.

07.55
Masih kurang lima menit lagi dari waktu yang disebutkan di selebaran. Mereka mengundang lewat selebaran bahwa akan ada diskusi di tengah lapangan taman ini jam 08.00. Taman ini seperti magnet yang membawa ribuan kaum kami datang bergelombang dan bila terik tiba, jumlah kami sudah berlipat-lipat.
Cuma untuk melepas penat tanpa tujuan seperti yang dijelaskan selebaran yang kuterima.

Jakarta 03,juni 07

Sipatumerah alias PARTO, orang Tegal yang berhidup di Jakarta. Pekerjaannya kurang terlalu jelas, namun kerap ke luar negeri. Aktif di PP KASBI Jakarta.

BANDUNG!

Juli 21, 2008

Melalui perjumpaan tak di sengaja di acara “Sastra Balik Desa”, kami bertemu Bojes dan Dian Hartati. Berbincang kami, bertukar kabar dan lalu keluar semacam undangan. Mereka menyelenggarakan acara “Sastra Bulan Mei” di Bandung dan mengharap kedatangan kami. Gayung bersambut. Undangan menarik ini haram dilewatkan.
Dan maka, berempat dari Solo (Joxum, Gusmel, Wisanggeni dan Bhre) menasbihkan diri sebagai delegasi menuju Bandung. Tanggal 30 Me i berangkatlah kami memakai kereta ekonomi. Seharian berada di kereta penuh orang berjualan, ditimpali pengamen yang lalu lalang. Bhre bersungut-sungut, “Kapan sih sampainya?”
Begitu malam ketika kereta akhirnya berhenti di Kiaracondong. Dan dimulailah segala peristiwa melingkupi kehadiran kami di kota kembang.
Artikel-artikel berikut, beserta sejumlah puisi, merupakan rekam jejak keberadaan kami di Bandung.
Barangkali banyak yang mengira apa pentingnya menulis reportase semacam ini, apalagi cuma di Bandung yang jaraknya sepelemparan rudal kelas menengah dari Solo. Benar juga memang.
Namun catatan atas pengalaman ini bisa jadi ada gunanya juga, setidaknya memberikan gambaran mengenai kehidupan sastra di kota-kota tertentu. Hasilnya siapa tahu bisa jadi refrensi kecil-kecilan bagi kota lain, agar tergerak menghidupkan sastra di daerah.
Setelah Bandung, seturut dengan lawatan sastra kru ALIS ke kota-kota lain, reportase serupa juga akan kami hadirkan!

SAJAK SUNLIE THOMAS ALEXANDER

Juli 17, 2008

VARIASI PADA TEMA

(TUBUH) PEREMPUAN

1)

: maria tjen tjit njoek, ibu

tidak ingin aku menafsirkan perempuan

sebagai batu, tubir pijakan bagi lelaki

yang berkarib dengan dunia jauh

walau sepenuhnya rinduku padamu

adalah tungku: hangat dan harum bumbu

bagi jejak dan kepulangan

paling biru

makanya aku selalu tersandung,

semata mata menoleh pada gaib doamu,

atau linang lantaran rumah yang sunyi

dan pedas merica untuk bumbu

seperti isyarat yang dikirimkan mercusuar

di karang, maupun

batu penjuru

tapi legenda selalu saja menghantui

kembaraku, tentang perempuan-perempuan

yang menjelma tugu oleh waktu

sampai berabad abad mendatang

kau bakal tetap bernama penantian yang membeku

aku tahu, sebagaimana tungku,

kau terlalu tahan dielus oleh api-waktu

jadilah aku lelaki

dengan hati yang tak pernah lengang dari lindu,

juga rindu

terus menolak menafsir perempuan sebagai batu

meski hatiku kelak akan membatu

sebab waktu, sebab waktu, sebab waktu!

atau jika akhirnya kau menujumku

serupa kutuk yang purba itu

biar sempurna aku menjadi batu,

sempurna menjadi sesal

dan cibiran di laut yang jauh

: tetap aku menolak menafsirkan

tubuhmu menjadi batu

(2)

: ummi hasanah

berbagai bentuk, berbagai nama

yang lahir dan mati,

kau tahu, akan tetap bernama cinta

seperti rahasia di balik kelambu

dan sebagai lelaki, aku masih tak ikhlas

menerima kebutaanku pada tubuhmu:

bahasa kecemasan bagi segala rindu dan sesal

selalu saja aku akan kembali mengutuk waktu,

yang ditakdirkan sebagai batu aduan

bagi cintaku, bagi hatiku, dan rasa sakit

yang kepala batu

hingga pecah akhirnya;

berkeping keping!

tapi masih tak rela juga kutancapkan

keras nisan buat nama dan tubuhmu

dan menziarahi waktu dengan setangkai kembang batu

atau semayamkan kenangan itu

di rongga katakombe; batu kubur

bagi segala yang kudus, yang akan bangkit

dengan tubuh baru

(3)

: chi-chi

jangan kau percaya takdir, bahwa

perempuan akan selalu mencintai dengan perih

tubuhnya dan tubuh lelaki

seperti perempuan di atas punggung onta,

yang mendului siti fatimah menjelang surga

tak pernah ada luka dan sengketa, ataupun

dendam turunan akhirnya, karena

dosa batu hawa pada adam pada kisah tua

lelaki adalah sebuah dentuman di langit

menciptakan ancaman waktu bagi tubuhmu

dan kuasa memberi nama pada setiap benda dan nyawa

kau akan menjadi tahu nantinya, di ruang tunggu

tentang kecemasan, juga gelap gerhana

“jangan menaruh batu-harap, tungku isyarat

bagi lelaki yang tega merajam tubuh perempuan

dengan batu batu!”

sebab, bukan saja ia menolak perempuan sebagai batu,

tetapi barangkali ia juga batu, yang bakal tenggelam ke palung laut

dalam, dalam, dalam sekali…

atau di langit, tempat bergantungan

batu batu waktu yang bercahaya, gadis anehku!

(4)

: ira esmiralda

aku tahu tubuhmu sekeras batu!

batu ketapel, lontaran yang membuat

memar waktu

(5)

: rostating

kaulah yang menyempurnakan mitos perempuan batu,

memanggil lagi keramat legenda:

oh, seribu candi bagi cinta yang beku!

loro jonggrang! ia cantik yang batu

tapi aku takkan mengutukmu selepas kokok jago

untuk syarat yang tak selesai di ambang waktu

justru itu kau nyaris sempurna batu pada pijakan jejakku

di pulau yang jauh!

(6)

: ami

sebagai waktu, kau rapuh…

maka sia sialah aku menemukan legam batu pantai

tumbuhkan isyarat baru

sebab lelaki tak pernah menunggu

kau pecahkan sendiri batu di mata dan hatimu

: hanya pasir di pantai kenangan itu

(7)

: wek

tubuh! tubuh!

tubuh!

bila kau menjelma batu di sungai,

lelaki bagaikan gabus (licin dan liat tubuhnya!)

suka menyelinap di sela-sela runcingmu

yang berlumut

oleh waktu

karena itu, jangan menjelma kilau batu pualam

bagi lelaki, sebab tubuhmu

rentan terbuka sebagai kriya batu

; patung erotis bagi sejarah yang pilu

di mana hikayat hikayat bakal tumbuh

menikahi musim musim yang beku

beri saja air matamu, mereka akan menadahnya

sebagai mata air yang terpancar dari lubang batu

untuk membasuh luka, sesekali cadas hati dan jejak kelabu

tubuh! tubuh!

tubuh!

ah, kau tetap saja mengirimkan gairah

dan aroma tubuh batu

yang panas dan licin

karena mata lelaki

selalu saru, dalam waktu yang batu!

(8)

(santa maria, tuhan besertamu

dan batu batu!)

Yogyakarta, 2006-2007

SUNLIE THOMAS ALEXANDER lahir di Belinyu, Pulau Bangka 7 Juni 1977. Belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah dan Komunitas Ladang, Yogyakarta.

LAWATAN SASTRA

Juli 17, 2008


OLEH: CAHYANI

Siang itu (Jumat, 16 Mei 2008) kami (Joxum, Ary, Bhre, Mila dan Sunlie) bergegas. Begitu bis ada, kami segera naik. Ungaran.

Kurang dari tiga jam, perjalanan sampai, tapi keterusan sampai Banyumanik. Lalu kami harus ke Jatingaleh, menunggu jemputan panitia. Ternyata menunggu kedatangan panitia hampir selama perjalanan tadi. Dihitung perjalanan menuju lokasi bernama desa Gebyok, impas sudah.

Malam di Gebyok menyambut kami dalam kemeriahan. Setelah memuaskan haus dan dahaga, kami mampir di tempat acara. Sebuah halaman rumah bambu nan agak lapang. Semua meleseh. Kami juga.

Acara-acara selanjutnya adalah diskusi dan diskusi lagi, kecuali di malam hari. Sejumlah pembicara dihadirkan, mengulas seluk beluk perpuisian negeri ini. Beberapa tema disajikan, sulit untuk berusaha menghindari tema-tema yang kerap diperbincangkan.

Apalagi ketika pembicaraan mengenai kondisi sastra tanah air dan mendatangkan pembicara Wowok H Prabowo (penggede buletin sangar boemipoetra). Tema “Utan Kayu versus boemipoetra” (oleh Adin ditambahi “Aku Melu Sopo?”), menegaskan kembali pembicaraan yang berulang. Beruntung kedua pembicara (Aulia Muhammad) tampil sangat segar dan saling serang. Aulia Muhammad sangat taktis berperan sebagai jubir Utan Kayu, bahkan juga jubir pemerintah (ketika tak pelak membincangkan soal BBM).

Pembicaraan di sore hari ini kian terasa istimewa sebab di halaman rumah.

Acara “Sastra Balik Desa” ini cukup sukses menghadirkan banyak sastrawan, baik dari Semarang sendiri maupun daerah lain. Sejumlah nama hadir seperti Raudal Tanjung Banua bersama Nur Wahidah, Sunlie Thomas Alexander, Budi Maryono, Dwicipta, Faisal Kamandobat, Y Thendra BP, teman-teman dari Lumbung Aksara Kulonprogo. Tak ketinggalan pasukan dari Solo seperti awak dari ALIS, HPK Karanganyar, Mejabolong, Kabut Institut.

* * *

Rencananya hanya satu: mengambil novel KATOK di percetakan di Yogya, Sabtu (24 Juni 2008). Tapi daripada nanggung, sekalian saja kami (Joxum, Ary, Nungki, Gusmel, Gatot, Wisanggeni) main sampai Kulonprogo. Kira-kira jam 3 sore kami sampai di sana. Siti Masitoh dan Ndari telah menunggu. Tak berapa lama berbincang, kami kembali ke kota. Mereka hendak mentraktir kami.

Di warung padang, yang konon basecamp mereka juga, kami berada. Perut keroncongan menuntut segera diisi. Tanpa perintah panjang lebar, kami pun mencapai piring dan mengisinya sesuai keinginan.

Perbincangan sembari makan di meja panjang sangat menyenangkan. Lurah Lumbung Aksara, Marwanto, datang dan menambah meriah suasana. Lalu Fajar dan seorang kawannya hadir. Setelah puas, kami bergegas kembali ke gedung PC NU. Di sana kami lebih santai lagi: merencanakan acara bareng di pinggir pantai lalu berbalas puisi sambil memperkenalkan ALIS. Menjelang maghrib kami balik kucing. (CAHYANI)

AKU DI MAJALAYA

Juli 17, 2008

OLEH: JOXUM

Malam di Bandung. Aku diculik. Seseorang yang baru kukenal menarik lenganku. Acara hingar oleh puisi di Taman Bareti sontak menjauh oleh deru motor dan keramaian kota kembang. Gedung Isola yang legendaris termangu, mungkin juga tak hirau dengan kepergianku. Ku-sms seseroang: “Bojes, maaf aku tak pamitan. Ada seseorang yang mesti kutemui.”

Kami menuju Rancaekek. Jauh. Padahal kantuk menyerang. Untung motor berdecit beberapa kali, menjagaku sadar dari kelopak mata yang terpejam. “Masih jauh, Fred?” tanyaku. Dia mengangguk. Bahkan belum sampai setengahnya. Anjrit!

Setengah jam barangkali baru sampai roda-roda motor yang mengangkut kami akhirnya tiba. Motor itu mungkin lebih lelah dari aku. Di sebuah rumah yang sederhana, bertemu aku dengan tiga orang yang lain. Aku pun terjerambab. Lelah selelah-lelahnya. Dan tertidur. Penculikan yang sempurna.

Malam itu aku bahkan tak bermimpi.

* * *

Pagi hari. Kubangunkan Hermawan. Fredi dan dua orang masih tertidur. Merekalah komplotan penculikku. Tanpa banyak cakap, Hermawan mengajak mandi. Penculik yang baik. Lalu kami bergegas. Menuju Majalaya.

Tibalah kami di Solokanjeruk setelah sarapan nasi kuning. Sebuah rumah mungil menanti kami dengan seseorang bernama Zaenal menungguinya. Kami tak sempat berbincang, sebab sebarisan perempuan berjejalan di dalamnya. Memakai seragam berwarna pink. Zaenal menulis di atas whiteboard dan Hermawan memperhatikan. Aku masih sedikit asing.

Zaenal bertutur, “Teteh, hari ini kita akan belajar menghitung upah kita sendiri sesuai dengan peraturan perundangan….”

Aha, rupanya kami sedang berurusan yang lumayan berbahaya. Mereka, orang-orang yang membawaku hingga kemari adalah para aktivis buruh. Dan perempuan-perempuan ini para buruh pabrik tekstil Wintai. Mereka habis berdemo semingguan kemarin menuntut upah minimum. Kira-kira 4000-an buruh yang semuanya perempuan. Hari ini, mereka bersiap menagih janji pengusaha yang setuju memenuhi tuntutan buruh.

Kita bukan hendak membicarakan pergerakan buruh saat ini di Majalaya, juga kerjaan para aktivis KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) dalam mengadvokasi dan mengorganisir buruh. Walaupun begitu, mereka tetap dibicarakan. Hanya saja kaitannya dengan sastra dan seni pada umumnya.

Zaenal bekerja sebagai pengamen, suka membikin lagu-lagu sendiri, memakai lirik-lirik yang dekat dengan aktivitas dan dunianya. Hermawan, aktivis buruh yang ganteng ini, ternyata punya pengalaman pribadi yang unik dengan sastra. Dia sudah membuat sejumlah cerpen, namun masih merasa belum yakin mempublikasikannya. Beno (petinggi KASBI), yang datang kemudian, kerap menulis puisi.

Begitulah.

Sore hari setelah pertemuan kedua bersama buruh shift siang, kami asyik berbincang mengenai sastra bersama mereka dan dua orang buruh setempat. Pada awalnya terdapat sejumlah kecanggunga. Sastra dan dunia tulis-menulis masih terlalu asing buat mereka. Seperti hendak bersalaman dengan perempuan cantik namun datang dari kutub utara.

Tapi selanjutnya perbincangan menjadi cair. Ada irisan-irisan yang mendorong mereka menyimpulkan bahwa sastra ternyata tak jauh-jauh amat dari kehidupan sederhana. Kubilang sastra prosa sebagai cerita kehidupan yang bisa ditemui di manapun, melalaui perbincangan (yang belum tertulis) maupun sinetron (setelah ditulis). Sementara puisi, lihat saja lirik lagu-lagu. Mirip-mirip kan?

Batas-batas dibongkar. Tira-tirai disingkap. Aha! Itulah sastra. Terlalu banyak melingkunginya hingga pamornya hanya terlihat samar-samar.

Setelah perbincangan singkat itu, mereka kian bersemangat. Zaenal hendak belajar menulis puisi, setidaknya untuk lagu-lagunya. Hermawan akan mengirimkan karyanya (setidaknya untuk ALIS suatu ketika). Dan Beno, kupikir tak ada orang yang semangatnya melebihi dia. Saat itu saja, Beno sedang sakit pinggang atau encok. Tapi tetap dibela-belain datang.

SEMACAM PERJAMUAN SASTRA

Juli 17, 2008

Dari Peristiwa “Sastra Bulan Mei”, ASAS UPI Bandung


Oleh : Gusmel Sajala

Malam itu (30/5) begitu tajam menusukan dinginnya angin ke pori ketika rombongan ALIS (diwakili Joxum, Gusmel, Wisang, dan Bre) menginjakkan kaki dari kereta. Sejenak terlepas dari gumpalan nyanyian pedagang yang menemani kami selama 11 jam. Perjalanan yang mengantarkan kami ke serangkaian peristiwa yang sangat sayang untuk dilupakan.

“Siapa pun yang berkunjung ke Bandung akan merasakan keresahan ketika sampai di ujung waktu di mana merupakan saat akan kembali pulang ke rumah”, kata Bojes, sapaan akrab Heri Maja Kelana, ketua ASAS, waktu itu.

Bojes ditemani Reza, yang juga anak ASAS menyelamatkan kami dari kebingungan. Mereka datang berkendara dua motor. Cukup melegakan hati, pasalnya kami memang sedikit was-was waktu itu. Di samping lapar, di antara kami tak satu pun yang tahu kemana harus melangkahkan kaki setelah turun dari kereta. Bertambah pusing lagi karena kami seakan berada di planet lain, perbedaan bahasa yang menjadi sebabnya. Akhirnya, dengan berbonceng tiga kami menuju basecamp ASAS.

“Selamat datang di ASAS!” teriak Bojes sesampai di depan basecamp ASAS. Cukup lelah juga berkendara berhimpitan selama 30 menit plus naik tangga 2 kali untuk bisa sampai di lantai paling atas Pentagon (semacam panggilan sayang untuk gedung Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI yang memang ber-segi 5 mirip Pentagon di AS).

Kami disambut hangat oleh beberapa orang anggota ASAS, diantaranya Amran, Jafar, Yopi, dll. Nyaris tak ada perempuan, sebab memang sudah terlalu larut kami sampai di situ. Mungkin para perempuan telah kembali ke sarang (baca: kost).

Bre (mungkin) satu-satunya perempuan di rombongan kami. Dia harus numpang tidur tidur di salah satu kost kawan ASAS yang pasti perempuan. Sedang kami para lelaki tidur berbaur dengan kawan ASAS yang juga lelaki di basecamp seusai ramah tamah dan sedikit tanya kabar dengan sang tuan rumah.

Perjamuan dimulai

Hampir jam sebelas (31/05) terlihat Shiho Sawai (Peneliti Komunitas Sastra, dari Jepang) masuk ke Auditorium UPI. Kami juga sudah 2 jam menunggu di depan gedung tersebut. Sambil ngobrol dengan Adin Hysteria (yang tiba pukul 04.00 tadi) mata ini cukup dikejutkan oleh mitos-mitos yang mungkin tak akan saya percayai sebagai mitos lagi. Perempuan Bandung ‘menyiksa’ mata.

Ah, kita tinggalkan dulu soal itu. Masih akan ada waktu panjang untuk membahas ‘masalah’ lelaki tersebut. Sekarang mari kita ikuti acara pertama dalam rangkaian peristiwa Sastra Bulan Mei.

Terlihat Rian Angkasa Pinem yang bertindak sebagai moderator dalam diskusi siang itu memanggil para nara sumber. Viddy AD Daery, (penyair, pengamat sastra, anggota tim ahli analisis media staf khusus Menkonminfo RI), Shiho Sawai, Lukman A Sya (alumni UPI, mantan ketua ASAS). Serta merta mereka naik ke atas panggung berurutan.

Konon, diskusi tersebut akan membahas Perkembangan Sastra di 3 negara. Jepang diwakili Shiho, Malaysia diwakili Viddy, dan dari Indonesia sendiri diwakili oleh Lukman. Cukup seru ketika masuk pada sesi tanya jawab. Banyak lontaran pertanyaan dari peserta diskusi. Yang menurut pribadi saya rata-rata pertanyaan yang berbobot.

Viddy mengawali diskusi dengan menceritakan pengalamannya ketika memenuhi undangan-undangan acara di Malaysia. Juga disebutkan bahwa penyair-penyair di negeri Jiran tersebut banyak diangkat menjadi pejabat negara. Lalu bagaimana nasib penyair Indonesia?

Shiho sendiri bercerita tentang perkembangan komunitas sastra di Jepang yang secara materiil sudah unggul. Tapi beliau agak kurang fit tampaknya. Ia juga mengaku, sewaktu di kereta kepalanya bersandar di dinding kereta, dan di sampingnya seorang penumpang tidur mendengkur. Hal itu mungkin sebagai penyebab berkurangnya kondisi kesehatan tubuhnya. Sayang sekali!

Sedangkan Lukman lebih suka menyinggung soal estetika para sastrawan Indonesia. Lebih bernada protes tampaknya. Terutama jika menyangkut soal Ayu Utami dengan novel-novelnya.

Diskusi dengan sangat terpaksa sekali diakhiri karena waktu yang memang sudah di penghujung terik, sekitar jam setengah dua. Sebenarnya soal perut. Padahal para peserta juga nara sumber sendiri masih antusias untuk berdebat. Tapi mau bagaimana lagi?

Perjamuan pertunjukan

Peristiwa kedua adalah Womensow. Sebenarnya adalah plesetan dari One Men Show begitu kata panitia. Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh ASAS. Sebentar, ada yang belum tahu apa itu ASAS?

ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) merupakan salah satu UKM (bukan komunitas) di Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Banyak penyair lahir dari sini. Seperti, Lukman A Sya, Ujianto Sadewa, Dian Hartati, Fina Sato dan penyair-penyair muda lainnya.

Nah, Womensow ini adalah ajang kreasi penyair-penyair perempuan ASAS. Bahkan juga merupakan pembaiatan penyair. Menurut adat ASAS, penyair yang telah dibaiat bertanggung jawab menjaga kelangsungan proses menulisnya. Tidak ada alasan untuk tidak menulis (dalam hal ini sastra).

Acara Womensow dibuka dengan pembacaan 3 puisi oleh 3 perempuan ASAS. Panggung yang telah di-set sedemikian rupa menambah ‘aroma’ sajak yang dibacakan. Terlebih kualitas pembacaan dan ekspresi para perempuan tersebut memang di atas standar. Luar biasa!

Paket acara kedua dalam Womensow ini juga puisi. Namun dengan konsep lain. Kostum yang tak biasa membuat perempuan-perempuan yang memang kondisi default-nya sudah ‘ehm-ehm’, semakin membuat mata ini tak kunjung berkedip. 2 x Luar biasa!

Tampaknya penonton harus terpana lagi. Kini, sang pembaca muncul dari arah belakang. Diusung dengan tandu oleh empat pemuda yang bertelanjang dada. Wow! Konsep pembacaan puisi yang cukup unik bukan?

Lagi-lagi kata ‘wow’ harus keluar lagi dari mulut penonton. Sekarang satu perempuan penyair berkain merah sangat panjang diringi empat perempuan penari. Mungkin berperan sebagai dayang. Cadar yang dikenakan sang penyair mengingatkan kita pada tokoh Aisyah dalam film Ayat-Ayat Cinta.

Lebih seru lagi ketika muncul seorang penyair perempuan membawa notebook dan membacakan puisi yang terlihat di layarnya. Memang, proses besarnya kebanyakan penyair juga sastrawan yang lain tak dapat dipungkiri karena banyak terbantu oleh teknologi. Ide yang cukup realistis!

Sebagai selingan, tari merak yang diusung oleh KABUMI (Keluarga Besar Bumi Siliwangi), salah satu UKM yang intens pada kesenian tradisional. Tari merak bercerita tentang kesombongan, keangkuhan, dan kecantikan. Tapi pada saat itu sebenarnya yang terlintas dalam benak saya adalah kenapa harus cantik lagi?

Lantas pada penghujung paket acara adalah saatnya pembaiatan. Tiga penyair perempuan telah siap untuk di baiat. Heri Maja Kelana, Rian Angkasa Pinem, Yopi Setya Umbara bertindak sebagai pembaiat. Kami disitu sebagai saksi sekaligus penonton yang tak berhenti tersenyum dan tertawa.

Entah, kagum, geli atau memang merasa lucu.

Anak ASAS memang luar biasa. Padahal hanya satu jurusan, tapi mampu mengkoordinasi secara apik orang yang terlibat. Yang seperti kita ketahui, tak sedikit anggotanya. Sekian kali LUAR BIASA!!

Baca Puisi Lintas Generasi

Sebagai puncak rangkaian acara Sastra Bulan Mei adalah Baca Puisi Lintas Generasi. Banyak penyair yang hadir malam itu. Godi Suwarna yang notabene adalah idola penyair Bandung turut memeriahkan acara tersebut. Hampir semua penyair yang hadir pada malam itu membacakan puisi. Dari pihak Alis pun juga turut unjuk gigi, kecuali Wisang. Dia lebih memilih menggelar koran sebagai dhasaran barang dagangan yang memang sengaja dibawa dari Solo. Diantaranya, ALIS edisi 1, Kumpulan Puisi Anti Soeharto, dan Novel KATOK. Kumpulan Puisi Anti Soeharto habis terjual semua.

Seusai acara malam itu, aku dan Wisang baru sadar bahwa Joxum telah hilang. Entah kemana, jangan-jangan kepincut cewek Bandung. Lantas melarikan diri. Tapi tak apalah, toh uang hasil penjualan buku masih ada pada kami (he..hehe…hee…). Bre mungkin sudah kembali ke tempat kost perempuan ASAS kemarin.

Perjamuan selanjutnya

Hari berikutnya (01/06) kami bertiga diajak Bojes jalan-jalan. Joxum? Dia kan sudah besar. Semoga tahu jalan pulang. Dan akan kami pameri soal jalan-jalan itu. Lihat saja nanti.

Aku sempat tertidur dalam bus kota, sebab semalam begadang sampai jam 02.00. Ngopi, ngobrol, main gitar dan bercanda. Wah, begitu cepat akrabnya kami dengan mojang-mojang Bandung.

Hari itu hujan, kembali mengingatkan pada puisi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono. Jalan-jalan menyusuri Kota Bandung bukan membuat hati ini menjadi santai. Sebagi lelaki normal tentu saja tak akan tenang di tengah kondisi saat ini. GILA!!!!! Nyaris tak ada perempuan yang tak cantik. Kuatkan hamba-Mu ini ya Tuhan!

“Aku tunggu di Rancaekek, beliin aku tiket sekalian. Kalian berangkat dari Kiaracondong saja. Ikut kereta jam 20.00.” Joxum masih hidup ternyata. Itu pesan darinya.

Akhirnya kami dengan berat hati berpamitan dengan sang tuan rumah. Bojes mengantar kami sampai stasiun. Bahkan menunggu sampai kami naik kereta. Baik sekali kawan satu ini. Dia juga mewanti-wanti agar kami membuat 100 puisi hasil perjalanan di Bandung. Sebab ia tahu kami tak bawa kamera, jadi menurut dia harus kami dokumentasikan peristiwa itu dalam puisi. Baiklah kawan, ucapku sambil tersenyum.

“….kini tinggal sisa-sisa suara kereta…” ah, jadi teringat puisi Bre. Tapi ini bahkan suara kereta pun tak terdengar lagi. Sebab kami semakin lelap dalam perjalanan pulang. Menyisakan keresahan-keresahan yang tertinggal di Bandung dan belum sempat diselesaikan. One day, aku akan kembali lagi, tekadku dalam hati.

Rumah Sastra, 5 Juni 2008

YU PATMI

Juni 14, 2008

Cerpen Bhagavadksetra Wisanggeni

Dan untuk kesekian kalinya mulut Yu Patmi terus saja nyerocos. Lidahnya bersilat licin, barangkali habis berkumur dengan 1 liter minyak pelumas. Dia terlihat sangat bersemangat bicara tentang masalah emansipasi dan gender yang harus diperjuangkan oleh setiap perempuan. Bicaranya fasih mirip juru kampanye yang mengumbar janji manis di atas panggung politik. Beberapa orang yang ada di depannya pun mengangguk-angguk, berpura-pura tahu padahal tidak tahu. Dan Yu Patmi pun tidak tahu, bahwa orang-orang yang mendengarkannya itu hanya berpura-pura tahu.

“Lihatlah kemajuan jaman sekarang ini. Mosok, kamu sebagai perempuan, dari jaman perang sampai sekarang tugasnya cuma masak[1] dan manak[2] . Sudah saatnya, kamu sebagai perempuan ikut diperhitungkan dalam kehidupan, jangan asal manut[3] saja sama lelaki. Kita itu punya hak yang sama dengan mereka. Ingat, ini jamannya emansipasi.” ujar Yu Patmi.

“Lha terus kalau kita kerja, siapa yang mau ngurus rumah?” tanya Mimin.

“Gantian dong sama laki-laki. Mosok, tiap hari kamu mau ngurus rumah terus? Buktikan kalau kita bisa seperti mereka dan bisa mandiri tanpa bantuan mereka.” Yu Patmi menjawab dengan mata berapi-api.

“Kalau kita tidak dibantu mereka, terus gimana nanti caranya kita punya anak? Mosok, kita harus kawin sama sapi?” timpal Yu Senik tanpa beban.

Tawa pun meledak di tengah-tengah pertemuan. Semua wajah terlihat sumringah[4], seolah baru saja menemukan semangat baru dalam kehidupan.

***

Kaki langit merayap, mengantar malam. Senja telah lama pergi membawa matahari dari beranda. Deras hujan yang mengguyur sejak sore tadi, kini hanya meninggalkan jejak gerimis. Membuat desa itu, berselimut tipis kabut. Hawa dingin meruncing, keluar dari tiap jengkal tanah basah. membuat menggigil tembikar atap rumah. Jalan desa yang belum pernah sekali pun tersentuh aspal panas itu, dibuat becek. Hingga jika seseorang ingin melewatinya, harus menjaga keseimbangan. Agar tak limbung lalu jatuh terpeleset, mencium tanah. Jerit suara katak dan jengkerik bersahutan, mensyafaatkan doa-doa dan lagu pujian usai tuntas hujan menambah kekhusukan desa itu dalam menikmati keheningan. Lampu minyak bercahaya pendar kemerah-merahan terpancar dari tiap-tiap rumah. Membuat setiap benda yang dirajam sinarnya, seakan ingin berlari dari tempatnya. Berlari. Berlari kemana saja. Lari ke ladang, menelusuri pematang , bergumul dengan lumpur sawah, atau ke surau tua di sudut desa. Mengalunkan dzikir di tengah-tengah samudera takbir dalam gemericing gerimis muram, menyusun kembali pecahan kiblat yang tersingkir dari puing-puing dan retakan waktu bernama kehidupan. Atau berlari menelusuri lereng-lereng tebing rohani, menyaksikan doa-doa para sufi yang berterbangan meniti anak tangga seribu pintu langit surga dan melihat rasi bintang-bintang yang tersisih dari pusaran lambung Matahari yang disembunyikan malam.

Senik, Mimin, Darmi, dan perempuan-perempuan lain di desa itu terlelap dalam ranjang pembaringan. Di tiap sudut bibir mereka, menyunggingkan senyuman. Impian tentang masa depan terpahat dalam otak mereka. Saling berkejar-kejaran, meraih apa saja yang bisa digenggam tangan. Uang, handphone, mobil, rumah berdinding beton, dan segala harta dunia yang secara perlahan memenuhi saku-saku mimpi mereka. Membawa langkah-langkah kaki mereka menuju gerbang kemewahan. Menjejakan sepatu high heels mereka menapaki dunia baru bernama emansipasi, seperti yang di ucapkan Yu Patmi sore tadi.

“Pokoknya kita jangan mau kalah sama lelaki. Jangan dianggap hanya mereka saja yang bisa bekerja cari uang, sedang kita cuma ditugaskan menjaga rumah, memasak, mengawasi anak di rumah. Lalu apa tanggung jawab mereka? Kalau cuma ngasih makan saja, kita juga bisa. Jangan pernah takut meraih mimpi untuk membuat masa depan menjadi lebih baik. Jika kita sebagai perempuan tidak punya keberanian, maka nasib kita sama saja dengan dari gelap tak kunjung terang.”

Kata-kata itu masih terngiang dan tersimpan rapat dalam ingatan. Menimbulkan gema dalam gendang telinga mereka lalu secara perlahan menerobos masuk dalam celah lelap kantuk dan menyisir tiap helai-helai mimpi mereka.

***

Embun berserak saat sinar matahari pecah di ufuk timur. Kehidupan di desa itu mulai menggeliat. Suara kokok ayam menjadi irama langkah-langkah kaki petani menuju persawahan, ladang, dan tambak. Langit berkepak biru sayap mengarak awan putih salju, berjalan perlahan, beruntun di tiup angin. Sekawanan emprit kaji dan kuntul, terlihat bermain-main di sekitar orang-orangan sawah yang sengaja didirikan. Sesekali burung-burung itu menggodanya, sambil menyelipkan bulir-bulir padi dan cacing di celah paruhnya. Di ujung petak, seorang petani terlihat menyebarkan pupuk. Dari mulutnya mendendang tembang lagu dolanan[5] masa kanak-kanak, membuatnya seolah sedang merapal mistik mantra-mantra. Semilir angin membawa bau wangi bunga tanah, seharum setanggi yang terbakar, menguap, merabai dinding-dinding asap kemenyan.

“Ada apa tho, Kang? Dari tadi kok melamun saja.” tanya Dalino, kemudian mengam bil tempat duduk di depan Sarman yang lebih dulu beristirahat di sebuah rumah-rumahan kecil yang terletak di ujung pertigaan jalan desa.

“Itu lho, Kang. Istriku, Mimin, tadi malam bilang dia mau bekerja di kota. Katanya kalau bekerja di kota bisa punya karier, punya jabatan lalu bisa beli mobil.” jawab Sarman, disusul gumpalan asap rokok lintingan meluncur dari mulutnya.

“Kok sama ya, Kang? Darmi juga punya keinginan kerja di kota. Sebenarnya aku tidak melarang dia untuk bekerja, tapi persoalannya anak-anak itu masih kecil. Besok saja kalau mereka sudah besar. Eh.. dia malah marah-marah, katanya ini masalah emansipasi.”

“Memangnya istri kang Dalino mau kerja di mana? Kalau Mimin katanya mau kerja di bank. Lha wong, baca sama tulis saja ia tidak bisa, mau kerja di bank.”

“Sebenarnya istri-istri kita itu kangslupan[6] apa tho, Kang?”

“Aku sendiri tidak tahu, Kang. Ora weruh[7]. Punya keinginan kok tidak logis.jawab Sarman gelang-gelang kepala.

Matahari semakin tegak berdiri. Terik sinarnya menggerayangi tubuh para petani, membuat kulit legamnya berkilat dipahat keringat. Sementara beberapa orang ikut beristirahat di bawah atap bangunan tadi, ditepian luas hamparan sawah yang telah menguning bersemburat hijau, menikmati semilir angin atau sekedar melepas lelah.


[1] Masak : memasak

[2] Manak : melahirkan anak

[3] Manut : menurut

[4] Sumringah : senang

[5] Dolanan : mainan, bermain-main

[6] Kangslupan : kesurupan, kerasukan roh

[7] Ora weruh : tidak tahu

PELURU

Juni 14, 2008

cerpen Gatot Prakosa

MALAM tidak sepi di sebuah rumah sakit bilangan Jakarta Pusat hari itu. Sekelompok mahasiswa berjas almamater, berjalan berputar-putar tak tahu juntrungnya. Mereka baru saja mengantar seorang kawan mahasiswa yang tertembak sore tadi. Dua – tiga orang jatuh ditembak. Apa yang terjadi? Kenapa penembakan harus menggunakan peluru tajam? Sudahkah demikian menakutkannya perlawanan mahasiswa kali ini, yang telah dimulai beberapa hari kemarin?

Laporan visum diterima seorang mahasiswa, ”kawan” si orang yang ternyata benar-benar meninggal. Kawan yang barangkali tidak akan pernah dikenali, bahkan tidak namanya. Karena nama apa pun menjadi sahabat pada sebuah demonstrasi yang menyatukan.

Malam bergegas jatuh.

Dalam benak orang-orang bertanya: apakah keinginan dia seharian ini, sebelum ia meninggal? Apakah saja hal-hal yang ia harapkan kemarin? Apa yang ia inginkan adalah wasiat, yang sepatutnya diterimanya. Ia meninggal dan akan dikubur sebentar lagi. Siapakah yang akan menggenapi wasiat yang entah apa kecuali dugaan-dugaan saja?

Beberapa orang bertanya kepada orang tua si anak muda yang meninggal, serta saudara dan sahabat. Tidak! Mereka tidak bisa menjawab. Keinginan yang dicuri sang maut tetap tidak ditemukan.

Diantara kesedihan dan kemarahan, seekor lalat berputar-putar dan hinggap sebentar-sebentar di atas peti mati di depan khalayak pelayat. Lalat itu berseru-seru garang, tetapi tak cukup terdengar telinga siapa pun. Katanya:

”Bangun tidur tadi pagi ia tak punya keinginan apa-apa! Pagi tadi ia tak punya keinginan apa-apa! Siang harinya, ia ingin orang-orang diperlakukan secara adil! Ia ingin setiap orang menghormati hukum!”.

Sang lalat berputar-putar, kini hinggap ke satu orang mahasiswa yang melayat, yang turut rombongan menuju pemakaman. Tidak mendapat tanggapan. Terus berteriak. Mengganggu. Hinggap ke orang yang lain. Tetapi siapa yang bisa mendengar?

Lantas siapa kini mesti menggenapi wasiat si orang yang tidak seharusnya mati muda?

***

SATU KABILAH para lalat tiba di sebuah keramaian jalan raya. Hinggap di titian kursi panjang halte bis yang tidak terisi. Diantara mereka ada satu ekor lalat yang ukurannya lebih kecil ketimbang lainnya. Lalat inilah yang pertama hinggap tadi. Dengan sekali kebas, antenanya sudah menggelontorkan keringat di tubuhnya.

“Maafkan saya, para Kamerad semua. Saya sudah tidak tahan untuk beristirahat lebih lama,” berkata si lalat kecil kepada para lalat lainnya yang lebih besar. “Terpaksa saya harus merepotkan Kamerad semua. Saya lelah sekali ….”

“Baiklah, biarkan kami berunding dulu. Engkau sudah memahami masalahnya, tentu saja,” ujar lalat terbesar yang menjadi pimpinan rombongan. Ia paham apa yang dirasakan si lalat kecil di depannya. Lelah sudah pasti. Ia masih terlampau kecil untuk ikut perjalanan kali ini. Ia belum bisa terbang sejauh mereka yang sudah dewasa. Tetapi, migrasi kali ini harus cepat tiba di tujuan. Cuaca terlampau panas beberapa waktu nanti. Musim kemarau panjang yang menyengat akan datang. Kabilah harus bergegas, kalau tidak regenerasi akan berhenti.

Berkali-kali sudah rombongan berhenti untuk istirahat si lalat kecil. Sehingga lama-kelamaan para lalat besar tak sanggup merelakan diri mereka untuk mengimbangi si lalat kecil. Mereka lelah sendiri karena harus berkali-kali istirahat. Ia harus terbang sejauh ia bisa. Itulah aturan terbang dunia lalat.

Sang lalat kecil berjongkok, melihat saja beberapa lalat besar bergerombol di depannya sedang ramai berdiskusi. Setelah beberapa lama, si pemimpin rombongan kembali ke dekat si lalat kecil. Ujarnya: “Baiklah, kami yakin kalau kamu paham betul kenapa kita tergesa-gesa. Musim panas kali ini datang lebih cepat dari biasanya. Kita tidak menginginkan hujan tentu, karena hujan menghalangi kita untuk terbang. Tetapi musim panas kali ini akan panjang, dan itu membakar sayap kita yang tipis, dan mata besar kita.”

Si lalat kecil menangis diam-diam. Ia mengerti sikap yang diambil kafilah. Ini demi kelestarian spesies. Perihal itu lebih penting dari hidupnya. Ia sadar dirinya hanyalah satu lalat kecil yang lemah. Lama kelamaan nantinya juga ia akan disingkirkan oleh apa yang disebut seleksi alam, kecuali ia menemukan dalam dirinya satu potensi unggul yang layak diselamatkan dari ayakan seleksi alam untuk bertahan hidup.

Air matanya sedikit merembes ke luar, hanya sedikit saja, tetapi itu saja sudah dilihat sang pimpinan. Para lalat tertunduk sedih. Beberapa saat diam, si pemimpin menegakkan pandang lagi.

“Saya tinggal di sini. Bagaimana kawan-kawan semua? Toh saya sudah tua. Fisik saya sudah lemah. Baik juga kalau saya tinggal berdua dengan kawan kecil kita.”

“Tidak! Jangan! “ teriak si lalat kecil. Diperhatikannya satu persatu kawan-kawan di depannya, tampak baginya mereka semua seperti saudaranya tetapi dengan tubuh yang lebih kuat. “Kafilah lebih penting ketimbang saya. Bapak pun lebih penting dari semuanya. Andalah pengajar kami semua.”

“Tidak anakku, aku sendiri belum tentu juga bisa terbang sampai tujuan. Baiknya aku mengajarmu di sini,” jawab sang pimpinan kafilah. Tetapi sang lalat kecil tetap bertahan pada pandangannya.

“Saya sangat merasa dihargai, saya merasa jauh lebih berguna bila saya dibiarkan sendiri. Saya akan menyusul kafilah ini suatu hari nanti. Keyakinan ini begitu menguasai saya. Tolong hargai saya sekali ini lagi.”

Rombongan lalat tertunduk lesu. Suasana halte bis berangsur-angsur ramai. Ada rombongan manusia pejalan kaki akan lewat. Suara-suara teriakan dan lagu yang aneh mulai terdengar di telinga para lalat yang berdiri di titian kursi halte bis pinggir jalan.

Lama memikirkan kafilahnya, menimbang-nimbang, dan akhirnya sesaat sebelum rombongan para pejalan kaki lewat di depan halte, sang pimpinan bersama semua lalat lainnya memutuskan

“Baiklah. Sampai jumpa lagi kawan kecil. Kami menunggumu.”

Sang pemimpin memeluk erat lalat kecil, menepuk kepalanya dan memperlihatkan pandang mata yang bersinar penuh semangat. Semua lalat beterbangan menyalami lalat kecil, lantas melesat terbang ke satu jurusan.

Si lalat kecil tetap tinggal di titian kursi panjang halte bis. Ia butuh istirahat. Juga ia butuh makanan. Suara-suara orang bernyanyi semakin keras terdengar.

Di sini tanah ini/

Tempat padi terhampar/

Samuderanya kaya raya/

Tanah kami subur Tuhan …/

Lalat kecil yang kini ditinggal sendirian, hinggap di salah satu lengan celana panjang seseorang diantara orang-orang lewat. Ikut bergerak ketika kaki orang ini bergerak. Lalat kecil sama sekali belum pernah berada di tengah hiruk pikuk orang-orang yang bernyanyi dan berteriak. Ia sedih dan bingung di tengah kebisingan. Merasa asing dan ditinggal sendirian. Ini dunia aneh baginya.

Sering ketika dicobanya terbang menjauh dari kaki-kaki banyak orang, ia melihat benda-benda logam dan karet yang melesat, dan tercium bau racun dari asap yang ke luar dari benda-benda aneh itu. Benda yang bergerak dengan kecepatan seperti itu bisa membunuhnya. Ia akhirnya mengikuti saja kemana sepatu dan kaki orang-orang ini bergerak. Karena di sini ia terlindung. Setidaknya bisa memakainya sebagai sarana pengangkut sekaligus penunjuk jalan. Ia bisa hinggap di pinggir jalan, di halte bis, sebuah wilayah yang menyisakan sedikit saja ancaman dari benda-benda yang bergerak cepat.

Keesokan harinya di saat udara sepanas kemarin, si lalat kecil mendengar lagi suara banyak orang lantang bernyanyi.

Di sini tanah ini/

Tempat padi terhampar/

Samuderanya kaya raya/

Tanah kami subur Tuhan …/

Setiap hari lalat kecil ini selalu menemukan hutan batang-batang tubuh orang yang berteriak-teriak dan bernyanyi. Bau yang khas dari keringat mereka dikenalinya, sehingga dapatlah ia berharap kalau besok hari kumpulan orang yang sama akan berada di tempatnya lagi. Lalat itu selalu terbang dan hinggap di ujung celana mereka yang lusuh, tak seragam, acak-acakan. Menghisap garam dari pori-pori kulit mereka yang terbuka dan lembab akibat keringat. Lalat kecil ini dapat mengenyangkan perutnya dengan makanan ini selain juga sel-sel kulit yang mati di daerah wajah, tangan, dan jari-jari kaki yang terbuka.

Berangsur-angsur lalat yang dulu kecil, kini menjadi besar. Ia sudah bisa terbang jauh. Ada hasrat alamiah mendorong dirinya untuk melanjutkan perjalanan yang lama tertunda. Naluri petualangan begitu besar pada setiap spesies lalat seperti dirinya.

Hari itu matahari membakar udara. Panas berlebih memanggang dua sayap sang lalat yang sangat tipis. Inikah kemarau panjang yang dikisahkan pimpinan kafilah dulu? Bagaimana pun ia harus selekas mungkin pergi, menyingkir ke utara, mencari daerah yang lebih terlindung dari panas yang terlalu terik.

Panas memaksa mata besarnya memproduksi cairan lebih banyak dari biasanya sebagai penahan sengatan matahari. Ia mesti cepat pergi. Ia sudah besar dan tidak lemah lagi. Perjalanan nanti akan panjang, dan ia mesti sendirian menempuh hidupnya, bertahan sampai suatu saat kelak ia bertemu kembali dengan kabilahnya yang dulu.

***

ORANG-orang berjubelan, berkumpul membentuk hutan seperti biasa. Ramai dalam teriakan. Gemuruh dalam nyanyian. Si lalat yang ditinggal kabilahnya, kini sudah besar. Ia terbang cukup lugas diantara kaki-kaki yang dikenalinya. Dengan cepat ia menghisap garam dan sel kulit mati orang-orang ini.

Di negeri permai ini/

Berjuta rakyat bersimbah luka/

Anak buruh tak sekolah/

Pemuda desa tak kerja …/

Sebentar saja ia merasa cukup kenyang. Sekonyong-konyong muncul keheranannya, kenapa rimba kaki ini jauh lebih padat, lebih banyak? Telinga kecilnya mendengar keriuhan. Ini belukar suara teriakan. Barulah sang lalat sadar kalau dirinya terjebak di dalam kondisi yang labil. Ia bisa tergencet oleh kaki-kaki yang semakin banyak lagi semakin merapat! Udara kian tipis. Ia ingin lekas terbang meloloskan diri!

Mereka dirampas haknya/

Tergusur dan lapar/

Bunda relakan darah juang kami/

Tuk membebaskan rakyat …/

Awalnya siang ini ia ingin “berpamit” pada orang-orang yang berteriak dan membelukar, yang setiap hari menjadi tempatnya hidup. Mengenyangkan perut sebisanya, untuk bekal perjalanan migrasinya. Ia ingin mencari kawan-kawannya dahulu yang kini tentu telah hidup nyaman.

Sayang perutnya terlampau penuh. Tubuhnya menjadi berat. Makanan yang berlebih malah membebani, sehingga ia tidak mampu terbang dengan baik. Lalat yang dulu kecil dan lemah, serta di awal hari hendak memulai perjalanan migrasinya, kini hanya mampu melompat dalam jarak pendek saja.

Mereka dirampas haknya/

Tergusur dan lapar/

Bunda relakan darah juang kami/

Tuk membebaskan rakyat …/

Diantara belukar kaki-kaki, sang lalat hinggap di bagian bawah celana seorang pemuda. Mata fasetnya yang besar menangkap gerakan orang-orang lainnya jauh di depan, di ujung belukar. Orang-orang yang berseragam membangun tembok plastik, dan bersiap dengan benda-benda panjang, yang kelihatan seperti terbuat dari logam berwarna hitam. Entah apa itu, ia tidak ambil pusing dengan penemuan benda-benda baru, yang jelas sekarang ia perlu istirahat.

Tiba-tiba! Sontak! Belum sempat sang lalat memejamkan matanya, ia terperanjat. Tak sempat meloncat dengan sempurna. Sebongkah besar logam teramat panas sebentar tadi melesat. Selintas hadir di satu bilik faset dari sekian ratus bilik faset matanya yang peka. Sangat cepat! Ia tak mengenali benda apa itu. Tetapi ia tak akan mendapat pengalaman apa pun dengan benda ini. Ia bertanya, dan pertanyaan itu membatu.

Benda panas menghantam tubuh sang lalat yang mulai terikat dengan tempat ini ketika masih kecil.

Di sini tanah ini/

Tempat padi terhampar/

Benda panas itu menerjang si lalat yang selamanya hidup dalam kesepian.

Samuderanya kaya raya/

Tanah kami subur Tuhan/

Pertama ia diterjang logam panas berwarna metalik yang melelehkan tubuhnya.

Di negeri permai ini/

Berjuta rakyat bersimbah luka/

Kemudian ia melihat sebuah kain berwarna kuning terang.

Anak buruh tak sekolah/

Lalu ada warna kulit manusia.

Pemuda desa tak kerja/

Dan terakhir warna merah pekat.

Mereka dirampas haknya/

Setelah itu semua bilik mata faset sang lalat hancur bersama seluruh tubuhnya.

Tergusur dan lapar/

Hancur sama sekali.

Bunda relakan darah juang kami/

Hancur yang sama sekali tak berbekas.

Tuk membebaskan rakyat …/

Hilang senyap. Tak meninggalkan bekas dalam sejarah yang ditulis dalam versi mana pun.

Padamu kami berjanji…/

Padamu kami berbakti…/

Solo, 2006

Hari itu: Jumat, 24 September 1999. Di Semanggi. **

Keterangan:

- Teks dalam garis miring adalah petikan lagu mars gerakan pemuda. Lagu yang biasa dinyanyikan saat demonstrasi, dan pada pertemuan-pertemuan sebelum sebuah aksi demonstrasi.

KOSAN BU JENDRAL

Juni 14, 2008

Cerpen BULAN SORBADJATI

“Tante, apa Mbak Rebi pulang?”

“Gak tau!”

“Pintu-pintu rumah depan dikunci semua tuh! Biasanya kan jam begini Mbak Rebi sudah nyapu-nyapu.”

“Biarlah dia pulang. Masak sih melayani kita terus?

“Dia perlu libur juga. Perlu duduk malas-malasan. Perlu bangun siang seperti kita-kita ini.”

“Ah, kok gitu sih, Tante?”

“Hlaa apa kamu kira dia gak butuh hal-hal ringan seperti kita? Kita aja bisa jenuh dengan kerja domestik, apalagi Mbak Rebi itu, yang saban hari dari subuh sampai magrib bersih-bersih rumah gedung sebesar ini. Belum lagi dia kagak punya hiburan. Belum lagi gajinya gak seberapa.”

“Tanteeee Pak Taman datang, lho!” Ndut berteriak dari pintu depan.

“Nha kan, kalau begini, siapa yang akan bikin minumnya?” Niken merasa menang. Jika mandor rumah kos mudik, sampah-sampah di depan pintu kamar kos tidak ada yang memindahkan ke pekarangan depan. Sampah betul-betul bikin pusing. Kucing peliharaan mandor kos suka menjungkirkan tempat-tempat sampah, sehingga isinya terjungkir semua. Mata jadi sepat. Belum lagi baunya. Beberapa anak kos tidak perduli pada kebersihan lingkungan—bahkan ada yang kamarnya seperti kapal pecah, amburadul, bau tak sedap. Tiap hari Mbak Rebi berkeliling memeriksa kebersihan, mengingatkan, bahkan menguyak-uyak.

“Orang perempuan kok jorok!!!

“Apa kalau pacarmu tahu kamu seperti itu kamarnya, apa ya pacarmu masih mau sama kamu?” begitu selalu rumus Mbak Rebi. Rumus itu tak selalu cocok, sebab ada anak kos yang menyebut dirinya feminis; berpacaran tidak lagi dengan niat hendak berumahtangga—tidak untuk melayani suami dan anak-anak sama sekali.

Mbak Rebi tidak pernah mengerti bagaimana caranya membangun dan menegakkan sistem kebersihan lingkungan yang berlaku sama untuk semua warga kos. Pemilik kos—seorang pensiunan jenderal dari Jakarta, yang berumahtinggal di Klaten, tidak pernah mengajarinya tentang sistem seperti itu. Apalagi Bu Jenderal, konon tahunya cuma menyuruh-nyuruh membelikan ini dan itu, tiap kali datang ke Griya Putri Ayu untuk mengambil uang kos. Orang sekampung akan tahu kedatangan Bu Jenderal dari belanja Mbak Rebi yang mendadak seperti memborong isi warung depan. Sabun, deterjen, minyak goreng, gula, kopi, teh. Bakpia sepuluhan kotak. Gorengan dua plastik.

Alhasil mandor kos tak pernah bertambah pengetahuannya. Keinginan dan kebutuhannya akan pengetahuan pun tidak pernah tumbuh—karena tidak pernah disemai! Majikannya tak memberinya pendidikan. Majikannya hanya memandangnya tak lebih sebagai orang suruh-suruhan. Maka yang diandalkan Mbak Rebi dalam dirinya hanyalah kepatuhan, ketaatan pada suruh-suruhan.

“Mbak Butet, katanya Mbak Rebi lagi pulang Bantul?” tahu-tahu Pak Taman sudah nyelonong masuk ke pekarangan dalam. Sudah biasa.

“Ehh iya, Pak! Teman-teman bilang begitu.” Butet lekas-lekas merapikan kimononya. Kikuk juga dia—sebab sedang tidak ada Mbak Rebi, mandor kos. Pak Taman dengan matanya yang lugu, suka menatap berlama-lama. Pasalnya, sebelum Butet menjadi warga GPA, tak seorangpun gadis-gadis cantik di rumah kos itu pernah menyapa dan mengajaknya bercakap-cakap. Beda dengan Butet.

“Mmm ya jika Pak Taman tidak keberatan, silahkan bekerja saja, nanti saya dan teman-teman yang urus konsumsi. Gak repot kok Pak! Nanti kami pesan ke Bu Lasmi aja.” Laki-laki desa yang rajin itu mengangguk.

“Peralatannya di garasi Mbak, saya minta ijin masuk.”

“Oo ya, silahkan Pak, silahkan.”

“Tante, ada apa dengan Mbak Rebi?” Astuti datang bergabung sambil menyisir rambut. Hendak berangkat kebaktian pagi.

“Emang ada apa?”

“Biasanya kalau pulang kan dia bilang sama kita-kita.”

“Iya, Tante. Maksud Niken tadi itu ya itu, kenapa Mbak Rebi gak bilang sama kita. Biasanya kan bilang.”

“Mungkin lupa. Mungkin buru-buru. Ya, apalah. Masak sih harus selalu sesuai dengan keinginan kita?”

“Pulang sini lagi kapan Mbak Rebi-nya, Tante?” Ndut duduk dengan mengangkat kaki ke atas buk.

“Mana aku tahu?”

“Soalnya ya, Tante, kemarin itu…” Astuti berhenti. Rima lewat hendak ke kamar mandi belakang. Kebanyakan anak kos menyukai kamar mandi yang persis bersebelahan dengan kamar Butet. Bukan lantaran paling mewah, tapi paling bersih, sebab Butet mengajak beberapa anak kos untuk ikut memelihara kebersihannya. Tidak bisa hanya menunggu kesiapan kerja mandor kos. Rumah kos itu terlalu besar untuk diurusi satu orang saja. Pemilik rumah rupanya pelit luar biasa, atau tidak mempercayai siapapun selain Mbak Rebi. Konon kabarnya Bu Jenderal masih sedulur jauh dengan Mbak Rebi. Bukan cuma itu saja, di kampung itu hanya Mbak Rebi itu yang paling cocok bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan pemilik. Segala urusan administrasi kampung-kota dipasrahkan kepadanya. Pak RT dan Pak RW tidak pernah berhasil memanggil datang Pak dan Bu Jenderal untuk ramah-tamah kampung. Mandor kos buta huruf, sehingga surat pemberitahuan macam apapun hanya menunggu saja di meja depan pemilik rumah. Menunggu pemilik datang dan membaca sendiri.

“Tante tahu gak kalau Mbak Rebi lagi mutung sama si Dwi dan Rima?” Astuti memberitahu pelan-pelan. Mata Niken dan Ndut serempak terarah lekat-lekat padanya. Rupanya tiga gadis ini mengetahui sesuatu yang penting.

“Tadi malam itu lho, Tante.”

“Aku gak dengar. Tapi… kan Mbak Rebi memang seperti itu kan?”

“Iya sih…” ketiganya mengiyakan.

“Kamu juga sudah pernah jadi subjek mutungnya kan?” Butet bertanya pada Niken. “Sampai satu bulan lebih.”

“Iya sih.”

“Tapi kan, Tante… walaupun Mbak Rebi itu lagi gak senang sama Niken, dia kan tetap bilang sama Tante kalau pulang ke Bantul. Nhaa ini kok gak begitu, gak biasanya kan…” Ndut menambahi penjelasan.

“Iya, Tante” Astuti mengamini.

“Kedengarannya…” Astuti mulai, “Mbak Rebi sampai mengatakan “keluar saja!” gitu pada mereka, Tante….”

Entah bagaimana mulanya sehingga kemudian teman-temannya ini menjadi terlatih berbicara berbelit-belit. Astuti anak Jakarta. Niken anak Kepulauan Riau. Ndut anak Sibolga. Satu tahun menjadi pemukim Jogja di Griya Putri Ayu, Kampung Lempuyangan, mereka kemudian mahir bersikap “sukar dipahami”. Mungkin lagak-laku Mbak Rebi jugalah yang mengkondisikan pada mereka. Niken pernah bercerita bahwa beberapa teman yang sudah keluar dari GPA memang “cabut” lantaran diusir mandor kos. Pengusiran tanpa alasan yang jelas. Hanya karena tidak mahir saja mengambil hati, tidak paham basa-basi.

Mandor kos mempunyai kesukaan yang berubah-ubah. Utamanya memang minta dilayani oleh anak-anak kos. Minta diantar shopping daster ke Mirota Batik. Minta diantar belanja keperluan bersih-bersih rumah ke Gardena. Akan belanja brokoli segar atau labu siem muda yang kecil-kecil? Ke Super Indo. Pengen singkong goreng keju, minta diantar ke jalan Solo. Butet melihat ini sejak awal. Dan yang paling sibuk melayani kebutuhan transportasi mandor kos adalah Niken. Butet selalu diajak mandor kos dalam konvoi belanjanya; Butet selalu menolak, karena memang tidak punya uang lebih untuk dibelanjakan tanpa rencana yang matang.

“Apa mereka berdua menolak diajak menemani nonton Sekaten?” tebak Butet. Niken, Astuti, Ndut mengangguk serempak.

“Kok Tante ngerti?”

“Ngerti aja! Aku mengamati perangai kita se-kos ini.”

“Kalau sama Tante, Mbak Rebi itu gak berani mentang-mentang,” kata Niken. “Sama kita-kita inilah dia itu selalu begitu. Capek juga sih, melihatnya, Tante. Masak sih kita mesti terus-terusan melayani dia?”

“Ya, begitu itulah orang yang kesepian ya, Tante?” timpal Astuti.

“Sebenarnya, sama aku beliau itu paling gak suka. Tapi kan mulutku gak bisa dia patahkan! Aku selalu bayar uang kos lebih awal juga.”

“Soalnya Tante juga kan lebih tua dari dia,” potong Niken.

“Bukan soal lebih tuanya, tapi… sudah terlalu tua untuk bisa terpengaruh oleh tingkahnya yang tidak stabil itu, gitu loh!” Butet bercanda. Tiga perempuan muda yang merubungnya diam saja.

“Kasihan sih beliau itu! Sepanjang bekerja di sini cuma ditekan sama boss-nya. Cuma dipandang sebagai orang suruhan. Gak pernah dihargai sebagai sesama manusia. Pekerjaan domestik gak habis-habisnya. Rumah kos yang harus dia urus sendiri begini besarnya. Sapi perah aja masih lebih disayang sama tuannya! Belum lagi kita-kita yang warga kos punya watak macem-macem. Mana dia gak bisa membaca apapun juga. Ada informasi tertulis kayak apapun dia gak pernah mengerti. Di dalam benaknya itu dia lelah, lelah. Gak heran kan kalau kadang-kadang dia seperti orang yang semena-mena juga? Tanpa dia sadari, dia mengadopsi sifat-sifat majikannya. Dan kebodohannya membuatnya tidak bisa mikir kalau sifat-sifatnya itu membuat anak-anak kos gelisah.”

“Mbak Butet…” Pak Taman tahu-tahu sudah muncul lagi di pekarangan dalam. Tampaknya keringat sudah membasahi seluruh wajahnya.

“Ohh ya, ya, Pak…. Sebentar ya, saya ke Bu Lasmi ambil teh hangat.”

“Ya, Mbak. Terima kasih.”

“Mau kopi juga, Pak?” Butet menawarkan.

“Tidak usah, Mbak. Air putih saja, yang banyak….”

“Baik, baik, saya salin sebentar, terus ke Bu Lasmi.”

“Mbak Butet, anu… itu…. Saya diminta sama….”

“Diminta apa, Pak?” Niken memotong, bertanya.

“Iya, siapa yang minta apa, Pak?” Ndut ikut-ikut bertanya.

“Jangan takut-takut, Pak, ngomong aja!” desak Astuti.

“Mbak yang kamarnya paling timur, siapa ya Mbak?”

“Ooo dia Dwi. Kenapa dengannya, Pak?” Butet urung masuk ke kamar.

“Saya dimintai tolong bantu angkat-angkat sampai ke Babarsari. Katanya ada dua kamar yang perlu dibantuin. Lumayanlah Mbak…. Apa saya boleh tidak bersih-bersih kebun sepenuh hari?” Pak Taman akhirnya menjelaskan dengan singkat. “Nngg maksud saya, apa Mbak Butet bisa bantu saya menjelaskan pada Mbak Rebi besok? Nggak enak juga kalau saya dinilainya tidak menjalankan tugas demi mbantuin anak kos.”

Pak Taman pernah diskorsing oleh Mbak Rebi selama satu semester. Tidak jelas apa yang salah dengan pekerjaannya. Astuti bilang karena “surat”. Semenjak “surat” itulah Pak Taman tidak pernah lagi datang. Siapa yang menuliskan “surat” itu untuk Mbak Rebi tidak jelas juga. Astuti cuma ditugasi Mbak Rebi menyampaikan kepada Pak Taman yang bekerja juga sebagai tukang kebun di kampusnya Astuti. Amplop “surat” tidak ditulisi apa-apa, sehingga Astuti tidak bisa menebak-nebak teman kos yang menuliskannya untuk mandor kos yang sedang unjuk kuasa tersebut. Pak Taman orang yang berperasaan halus, juga orang yang sekolah—dia tamatan STM Mesin dari St. Mikael. Bisa membaca dengan baik, bisa mengerti dengan baik.

Pak Taman yang menggantikan, bekerjanya tidak sebaik yang lama. Sudah tua dan tampaknya pemalas. Pekerjaan yang biasanya setengah hari digarap seharian penuh. Gaji persis sama dengan yang lama. Tentu saja Mbak Rebi merasa rugi. Mbak Rebi terpaksa ikut juga berkebun sepanjang enam bulan itu. Sebab Bu Jenderal tidak perdulian, pokoknya kebun harus rapi selalu! Setiap kali datang mengutip uang kos, Bu Jenderal memang terdengar mengomeli Mbak Rebi. Anak-anak kos umumnya senang juga mendengar tuan dan hamba itu seperti itu. Mbak Rebi cuma menunduk lemas seraya menelan baik-baik seluruh omelan majikannya. Gantian jika tuan sedang tidak ada, hamba sering kelepasan sok kuasa juga terhadap anak-anak kos yang telat satu dua hari bayar kos. Rupanya kekuasaan dihausi setiap orang. Bentuknya saja yang bervariasi. Dari sangat halus hingga paling vulgar. Dari orang yang tak berpendidikan sama sekali, hingga orang yang kebetulan menjadi majikan bagi orang lainnya. Pengalaman rupanya mendidik Mbak Rebi. Dia minta tolong pada Butet untuk kirim sms pada Pak Taman lama. Diminta datang lagi ke GPA. Bekerja seperti biasa. Ketika itu diawal sms Butet menambahi kalimat pendek yang sama sekali tidak diinstruksikan oleh Mbak Rebi, “Pak, saya betul-betul mohon maaf atas sikap saya kemarin,” begitu. Pak Taman lama yang baik hati itu tentu saja membalas dengan sebaik-baiknya sikap. Butet tidak membacakan seluruh sms dari Pak Taman lama, menjaga agar perasaan Mbak Rebi tidak mencelat lagi ke arah yang tidak perlu.

“Gimana Tante?” Ndut mengguncang tangan Butet.

“Ehh ya, kalian… bagaimana? Bisa menjaga rahasia? Atau jangan-jangan Niken nanti akan membocorkan pada Mbak Rebi?”

“Ah, Tante kok gitu?” Niken cemberut. Astuti kelihatan senang melihat temannya itu ditelanjangi. Bukan rahasia lagi di kalangan warga lama tentang sifat Niken yang tak jelas berpihak ke mana.

“Aku kan memperhatikan. Kalau kamu lagi dijadikan anak kesayangan, kamu bercerita semua hal pada beliau itu. Tapi kalau kamu lagi dibuat sebagai bulan-bulanan, kamu mengeluhkan beliau itu pada kita-kita ini. Ayolah kita latihan jujur. Kita ini kan pada rajin kebaktian.”

“Yaa, Tante nggak usah sampai ke situ dong!” protes Ndut.

“Lahh terus? Kamu kebaktian untuk apa kalau tidak dipakai mengoreksi kelakuanmu sepanjang enam hari sebelumnya?”

“Ahh, Tanteee jangan bawa-bawa agama dong….”

“Bahh agamamu kan agamaku juga, gerejamu kan gerejaku juga. Buat apa kita rajin kebaktian kalau kelakuan kita masih sirik-sirikan terus? Artinya agama dan gereja itu apa dong?”

“Kok jadinya kita yang berdebat, Tante? Kan yang sedang perlu dijawab itu, kan, Pak Taman!” Ndut wajahnya mulai keruh.

“Gak apa-apalah, sekalian!” kata Butet. Sudah lama dia jengkel pada tingkah Ndut yang seperti polisi. Jika pada hari Minggu pagi dia melihat Butet tidak siap-siap ke gereja, dia akan memberondongi Butet dengan segala macam perkataan tolol tentang keberimanan. Kuping Butet mau meledak mendengar; dia tidak pernah perduli pada penjelasan bahwa dibanding dirinya, jam terbang Butet berkebaktian di gereja itu sudah lebih lama sepuluh tahun. Dan bahwa di gereja sekarang ini dia cuma berkeringat dan mengantuk. Bahwa gereja sudah kehilangan kharisma di mata Butet. Bagi Ndut, bergereja masih satu-satunya syarat mencapai surga. Layak diperjuangkan dengan keringat dan kantuk.

“Mbak Butet… bagaimana ya?” Pak Taman bertanya takut-takut.

“Ehh iya Pak! Maaf!

“Kalau saya sih, monggo…. Pak Taman bikin pilihan. Mbak Rebi pulang Bantul juga gak bilang-bilang sama kita-kita. Saya gak akan bikin Pak Taman terpojok kalau beliau itu tanya pada saya.”

“Bagaimana Mbak Ndut?” tanya Pak Taman dengan penuh harap.

“Ehh ya, Niken gimana? Astuti gimana?” Ndut menyodokkan lagi bola. Mulai main pingpong. Sikapnya khas kebanyakan anak-anak muda jaman ini, tidak berani memberi jawaban sendiri. Takut membuat sikap sendiri. Takut pada penguasa di GPA, mandor kos yang kala-kala sok unjuk kuasa. Astuti diam. Niken diam. Ketiga perempuan muda cantik-cantik—berpendidikan universitas itu cuma bisa diam saja.

Fanny Rosa

Juni 14, 2008

cerpen Yudi Agusta

Tentu aku masih ingat nama itu. Meskipun sudah lebih dari dua puluh tahun tidak ketemu, ia seorang perempuan yang mudah dikenali. Kulitnya yang putih dan halus bagai kulit bayi serta bulu mata yang indah. Dan tahi lalat di keningnya itu seakan menambah aura kecantikannya. Dan itu membuatku – mungkin juga orang-orang yang mengenalnya- gampang untuk mengingatnya.

Dulu, ketika dia masih belajar di sekolah dasar, ia adalah gadis kecil yang cantik bahkan tercantik di sekolah kami. Kehadirannya di tengah-tengah kami yang rata-rata berkulit sawo matang menjadikannya nampak semakin bersinar. Ia menjadi bintang di sekolah tempat kami belajar dulu.

Tapi di balik kelembutan gadis itu tersimpan sebuah kecongkaan. Mungkin saja pantas bagi dia untuk memiliki sikap sombong. Anehnya, teman-teman perempuan, terutama yang satu kelas dengannya, nampak senang bergaul dengannya. Dan mereka akan memanggilnya dengan sebutan mbak, mbak Fanny. Yang lebih aneh lagi, apabila ada salah seorang di antara mereka yang kurang setuju dengan apa pun yang dilakukan oleh si gadis sombong itu, maka sebagai konsekuensinya ia akan terisolasi sampai ia harus meminta maaf padanya.

Begitulah Fanny. Ia seperti putri raja di jaman dahulu seperti yang didongengkan oleh guru-guru sejarah di kelas kami. Hanya saja yang membuat aku tak mengerti mengapa orang sekaya dia sekolah di tempat kami sekolah. Padahal sekolah itu biasa-biasa saja bahkan kebanyakan dari kami adalah orang-orang yang hidupnya pas-pasan. Kalau mau, sebenarnya bisa saja ia atau orang tuanya memilih sekolah yang jauh lebih maju dan menyediakan berbagai fasilitas untuk kegiatan belajar. Atau mungkin itu adalah cara agar ia semakin nampak bahwa ia adalah orang berada. Entahlah.

Ayahnya juga memiliki banyak peran di sekolah ini. Bantuan sering diberikan untuk kepentingan sekolah. Hal macam begini ternyata menciptakan iklim yang kurang baik, setidaknya ada rasa hutang budi pada orang yang memberikan bantuan itu. Sekali pun itu ada kalimat ‘saya ikhlas’. Ah, apa peduliku. Tapi bukan itu. Ada hal lain yang secara jujur harus kuakui, barangkali ini agak berlebihan, bahwa akan terjadi ketidakadilan bagi kami semua dalam mendapatkan hak sebagai siswa, sama-sama sebagai siswa. Kenyataan itu memang benar. Alih-alih menyentil telinganya, memarahi sedikit pun belum pernah dilakukan oleh guru-guru di sini saat ia melakukan sebuah kesalahan atau tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Kalau Fanny Rossa tidak bisa menjawab sebuah soal yang diajukan oleh guru maka ia hanya mendapatkan nasihat yang baik dari guru tersebut agar ia lebih giat lagi dalam belajar.

Tapi akan menjadi lain ketika yang melakukan kesalahan adalah siswa lain termasuk aku. Kebanyakan dari kami akan mendapatkan damprat, caci maki atau bahkan tempeleng dari guru. Mereka akan bilang bodoh, goblok, tolol dan kata-kata yang mungkin memang pantas buat kami tapi tak pantas untuk dilontarkan.

Hingga pada suatu ketika, Pak Sukamto, guru baru yang menggantikan Pak Sukino sebagai wali murid kelas 6, dengan keras memarahi Fanny Rosa karena suatu kesalahan yang telah dilakukannya. Pak Sukamto memang seorang guru yang terkenal galak dan keras. Ini sudah diakuinya sendiri waktu pertama kali ia duduk di depan kami semua. Dan apa yang dilakukan oleh Pak Sukamto adalah pemandangan baru bagi kami. Dan nampaklah bahwa ternyata Fanny Rosa adalah seorang gadis yang cengeng. Ia berlari keluar kelas sambil menangis dan dengan pipi yang merah.

Esoknya kami melihat ayah Fanny datang ke sekolah dan kami mendengar pak Sukamto kena marah. Bahkan, aku mendengar ia kena tampar karena berusaha melawan. Dan ayah Fanny mengancam akan mengeluarkan pak Sukamto dari sekolah bahkan akan mengkasuskannya melalui jalur hukum.

Itulah sebabnya mengapa pak Sukamto tak lagi punya nyali. Ini terlihat karena ada perubahan sikap. Ia, seperti juga guru-guru yang lain harus bersikap manis kepada Fanny Rossa. Dan tetap galak kepada murid yang lainnya. Ia akan tetap marah dengan kebodohan kami dalam hal pelajaran sekolah.

Begitulah contoh kecil dari ‘kehebatan’ ayah Fanny Rossa. Guru-guru bahkan kepala sekolah begitu hormat dan segan kepadanya. Juga di rumah, karena kebetulan aku adalah salah seorang tetangganya, aku tahu bahwa orang-orang menaruh rasa hormat dan sungkan kepadanya. Para tetangganya memanggilnya dengan sebutan pak haji sekali pun mereka lebih tua darinya. Ayah Fanny memang sudah lebih dari sekali berangkat ke tanah suci Mekkah.

***

Terakhir kali aku ketemu dengannya di sebuah pasar malam tiga tahun silam. Saat itu aku sedang berjalan-jalan bersama anak dan istriku. Waktu itu tanpa sengaja aku melihatnya duduk di sebuah kios kecil yang nampaknya menyediakan bermacam pakaian batik untuk dijual di acara bazar itu. Ia agak terkejut ketika matanya menatapku. Aku tahu ia merasa malu tapi aku bisa mengerti. Aku tak bermaksud membeli pakaian itu. Ku hanya ingin menyapanya sebagai seorang kawan lama meski sekedar basa-basi.

“Anakmu…., berapa usianya?” Tanyanya dengan nada tak biasa, setengah dipaksakan. Ada resah di sorot matanya yang layu seperti bunga yang lama tak disiram. Dan pertanyaan itu membuatku sedikit terkejut. Dengan gugup aku bilang iya dan mengangguk. Kukatakan padanya anakku yagn pdaling kecil dan berumur 6 tahun. Hanya sebentar kami bercengkrama tapi ia sempat mengatakan kalau dirinya masih lajang padahal usianya sudah empat puluh tahun lebih. Karena banyak orang yang datang, maka aku segera pamit meninggalkan kios itu melanjutkan jalan-jalan bersama anak dan istriku.

Pakaian batik yang ia jajakan mengingatkanku pada apa yang telah menimpa ayahnya sekitar sepuluh tahun lalu. Ayahnya adalah seorang pegawai di sebuah peusahaan batik paling terkenal di seantero negeri. Tapi tak banyak yang tahu dengan pasti, termasuk aku, ia bekerja sebagai apa atau menjabat sebagai apa di perusahaan itu. Walau hanya bekerja di salah satu cabangnya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia adalah orang yang cukup terpandang karena harta yang ia miliki. Paling tidak ini bila dibandingkan dengan tetangga-tetangganya.

Kami hanya tahu bahwa ayahnya sering pulang dengan sebuah mobil tertutup dan agak besar dan kami menyebutnya dengan kol atau truk mini ke rumahnya. Setiap mobil itu datang ke rumahnya, selalu saja ada banyak pakaian batik di dalamnya.Tak ada desas-desus miring tentang ayah teman kecilku itu. Kami selalu menganggap bahwa keluarganya adalah orang-orang hebat.

Namun semua itu menjadi berubah ketika tiba-tiba saja rumahnya yang besar itu disegel. Hal itu bisa dengan gampang kami ketahui dari tulisan yang tertempel di pintu: Rumah ini disegel.

Sejak itu, kehidupan keluarganya yang dulu megah berangsur-angsur memburuk. Barangkali demi menutupi rasa malu keluarganya, mereka semua akhirnya pindah ke tempat yang agak jauh dari rumah asal mereka. Tapi tetap saja aibnya masih dipergunjingkan dan kabar tentang keadaannya di tempat mereka pindah itu sesekali dibicarakan.

Bahkan kabar bahwa Fanny Rossa belum bersuami diketahui oleh para tetangganya dulu. Mereka menyebut perempuan itu dengan julukan yang agak aneh: si perawan tua. Barangkali itu didasarkan pada kenyataan bahwa sampai usianya yang hampir setengah abad belum juga menikah. Aku sendiri tak mengerti orang secantik dia kok belum menikah bahkan hingga mayatnya ditemukan kemarin malam di sebuah kamar losmen.

Ketika itu aku juga turut datang ke tempat kejadian perkara. Karena terlambat, aku tak bisa menyaksikan dengan tuntas peristiwa- yang menurut cerita orang-orang – sangat mengerikan itu. Ada yang bilang terdapat sebelas tusukan di tubuh perempuan malang yang tak lain adalah teman kecilku itu. Ada yang menambahkan, sebelum tubuhnya koyak, ia sempat diperkosa. Dan ada pula yang bilang, itu adalah kematian yang sudah biasa : bunuh diri. Seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Entahlah.

***

Dipekuburan, isak tangis duka masih terdengar mengiringi persemayamannya. Aku melihat wajah mama Fanny Rossa yang pucat dengan mata yang merah dan basah. Begitu pula dengan saudara-saudaranya dan teman-teman perempuannya dulu. Aku menundukkan kepala mendoakan semoga amalnya diterima dan dosanya diampuni Tuhan ketika acara penguburan selesai.

Saat para takziyah mulai meninggalkan tempat pemakaman, mama Fanny Rosa mendekatiku. “Kau Marno, kan?”Sapanya dengan suara masih terisak. Aku mengangguk sopan. Lalu ia melanjutkan, “Tolong, nak maafkan kesalahannya. Dan doakan supaya pembunuhnya terungkap”. Aku bilang iya padanya walau tak tahu apakah sungguh-sungguh atau karena sungkan saja. Aku juga tak mengerti yagn dimaksud dengan ‘kesalahan’. Karena bagaimanapun harus ku akui meski ia tetanggaku tapi hampir tak pernah aku diajaknya bicara. Apalagi dengan agak menghiba seperti sekarang ini.

“O, iya, ayah Fanny sedang terbaring sakit. Nak Marno, percayalah itu semua adalah fitnah. Apa yang kamu dengar tentang ayah Fanny tidak sepenuhnya benar”. Salah seorang kerabatnya lalu memerangkul pundaknya mencoba untuk menenangkannya ketika tangisnya semakin menjadi. Aku pun akhirnya melangkah menuju bus lelayu yang sudah penuh oleh para takziyah.

***

Paginya peristiwa targis yang menimpa Fanny Rossa muncul di koran lokal. Koran itu memberitakan bahwa polisi mulai mendapatkan titik terang mengenai misteri kematian Fanny Rossa. Aku bersyukur. “Yah, semoga saja misteri itu benar-benar terungkap,” gumamku sambil melipat koran dan meletakkan di atas meja.***

Solo, 14 Mei 2008