Cerpen Ary Wibowo
SATU hal yang tak disukai Sarman setiap kali menjelang bulan puasa adalah kenaikan harga minyak goreng dan kebutuhan pokok. Sarman tak pernah habis pikir mengapa setiap menjelang bulan suci justru seolah menjadi momentum yang tepat bagi setan-setan untuk mencobai umat yang bertaqwa. Setan-setan itu menjelma menjadi harga kebutuhan pokok yang melambung, minyak tanah yang langka, dan menjelma menjadi apa saja untuk menggoda hati manusia.
Sarman menjejakkan kaki, turun dari angkutan umum yang membawanya pulang dari kerja saat senja mulai melindap mencetak bayangan tubuhnya menyusuri jalanan kampung. Seperti senja yang lain, Sarman mendapati ibunya di teras rumahnya yang kecil. Lelaki itu memandangi jemari sang ibu yang dengan penuh kasih merawat tanaman hias. Tanaman dengan daun bergelombang dan menjulang hingga menyentuh langit-langit rumah. Tanaman itu telah sepuluh tahun dirawat ibunya sejak almarhum ayahnya meninggal.
Masih teringat dalam kenangan Sarman. Dulu ayahnya membeli tanaman itu dari seorang penjaja bunga keliling. Ayahnya merasa kasihan saat melihat penjual bunga itu melepas penat di depan pagar rumah, mengeluhkan barang dagangannya belum ada yang laku sama sekali. Entah karena iba atau tertarik, ayahnya membeli dua polybag tanaman kecil. Maka sejak itu setiap sore tanaman kecil tersebut dirawatnya. Disiram dan beberapa tempo sekali diberi pupuk. Kegiatan itu seolah merupakan hiburan bagi ayahnya menjelang pensiun dari pegawai negeri.
Sesekali ayahnya mengajak Sarman jalan-jalan ke pasar bunga, sekadar membeli pot atau tanaman murah yang bisa menambah kesejukan teras rumah. Dengan bertambahnya hari, teras itu mulai dipenuhi tanaman. Namun ayahnya paling suka memerhatikan tanaman yang dibeli dari penjual bunga keliling. Tanaman yang awalnya hanya mirip bendera kecil, setelah delapan bulan berikutnya berubah menjadi lembaran daun hijau yang cukup lebat.
Ibunya pernah berkata bahwa ayah Sarman memiliki tangan yang dingin. Setiap tanaman yang dirawatnya selalu tumbuh subur dan berkembang. Namun sayang, ayahnya terlalu cepat dipanggil Tuhan. Hingga akhirnya tanaman-tanaman itu nyaris tak terurus dan seolah merasakan kepergian tuannya. Tanaman itu hampir mengering, sama seperti air mata ibu Sarman yang kehilangan suami tercinta. Tapi lantas sang ibu sadar, tak ingin berlarut dalam luka kepedihan dan kehilangan. Maka tanaman-tanaman di depan teras rumah itu dirawatnya sebagai keabadian tanda kasihnya kepada sang suami.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menumbuhkan kembali gairah hidup seorang wanita yang usianya mulai uzur ditinggal suami. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebatang tanaman hias tumbuh berkembang dan berdaun lebat. Ibu Sarman melakukan itu dengan penuh cinta. Merawat, menyirami, memberikan pupuk, dan membersihkan lembar-lembar daun dari debu. Semua dilakukan ibunya dengan setia, seolah ayahnya turut mendampingi dan memperhatikan. Barangkali ayah di ‘alam sana’ akan tersenyum jika melihat tanaman-tanaman hias itu tumbuh semakin lebat dan menyejukkan, batin Sarman.
Itulah yang membuat hati Sarman terharu, setiap kali memandangi ibunya dan tanaman hias yang semakin berdaun lebat di teras rumahnya. Diam-diam hati Sarman mengagumi akan besar rasa cinta ibu kepada ayahnya. Hingga di masa pensiun dari guru SD saat ini, ibunya nyaris menghabiskan waktu hanya untuk merawat tanaman-tanaman itu sepanjang hari, seolah tanaman itu dapat diajak berbincang tentang seribu cerita kenangan masa lalu.
Tapi Sarman tahu, kenangan masa kecil tak akan pernah kembali. Kenangan di masa-masa gemilang hanyalah seperti bingkai foto yang tergantung di ruang tamu. Hidup seperti sebuah gelombang. Naik dan turun seperti alur daun tanaman tersebut. Kenangan saat-saat di mana ayahnya memanjakannya sebagai anak semata wayang tak akan pernah ia miliki lagi. Kini kehidupan terus menggelinding, hanyut dalam sebuah gelombang di mana Sarman harus tetap menjalaninya. Menghidupi ibunya, isterinya, dan kedua anaknya yang masih kecil.
Belum lagi memikirkan uang sekolah anaknya yang sulung, susu untuk si bungsu, atap rumahnya yang mulai bocor di sana-sini, tagihan listrik dan masih banyak hal yang harus dipenuhi. Kini, giliran barang kebutuhan pokok melambung, seolah ritual tahunan memasuki bulan puasa. Sesungguhnya setan memang punya banyak nama yang akan terus mencobai manusia dan bersembunyi di balik problematika dalam segala ranah kehidupan Sarman.
“Mas, aku dengar tanaman hias yang dirawat ibu sekarang harganya bisa puluhan juta,” ujar Sarti ketika kedua anaknya telah lelap. Malam telah berangsur sunyi ditingkah suara jangkerik.
“Iya, aku juga tahu dari Burhan temanku. Tanaman itu tiba-tiba menjadi sangat diminati banyak orang,” Sarman menimpali sembari matanya masih tak lepas dari surat kabar yang sudah kadaluwarsa.
“Mas, aku ingin bilang, tapi mas jangan tersinggung.”
“Ya, ada apa?”
“Mas, tahu kan kondisi keluarga kita? Setiap hari kebutuhan kita semakin bertambah, harga-harga melambung dan gaji mas hanya cukup untuk makan dan bayar sekolah Ima.”
“Lantas?” Sarman tahu arah pembicaraan Sarti. Sarman sebenarnya juga mulai gelisah, setiap bulan puasa menjelang tiba, keadaan rumahnya seolah benar-benar sedang mengalami ujian. Harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan senantiasa melambung setiap tahun, sedang gajinya sebagai buruh pabrik plastik tak pernah naik untuk mengimbangi kenaikan harga-harga kebutuhan. Jangankan kenaikan gaji, bahkan tunjangan hari lebaran saja terkadang harus didapat dengan berdemo di depan pabrik. Sudah tidak adakah tulus ikhlas berbagi rezeki bagi kaum jelata? batin Sarman seraya melemparkan pandangan pada langit-langit kamarnya yang bocor.
“Kalau, Mas Sarman tak bisa mencari penghasilan sampingan. Aku pikir, tanaman hias di depan teras itu bisa menjadi solusi untuk melunasi hutang dan mencukupi kebutuhan kita, Mas,” Sarti melontarkan kalimatnya. Sarman mengalihkan tatapan pada wajah istrinya.
“Tapi, tanaman itu sangat berarti bagi ibu,” Sarman menimpali dengan nada setengah tak percaya. Dia tak akan setega itu meminta ibu untuk menjual tanaman itu.
“Aah, apalah arti kenangan jika kita kesulitan mencari makan!” tukas isterinya sembari membalikkan punggung di tempat tidur, membelakangi Sarman.
Malam menggelincir sunyi.
BEBERAPA hari kemudian, Sarman mencoba membujuk ibunya untuk menjual tanaman hias itu. Ibunya yang terlihat semakin renta seolah tak mendengar ucapannya. Jemari keriput itu masih setia membersihkan debu yang menempel di lembar-lembar daun. Baginya, dua pot tanaman yang kini daunnya menyentuh langit-langit itu tak bisa dinilai dengan setumpuk uang. Terlalu banyak lembar kenangan tersimpan pada setiap lekuk gelombangnya. Terlalu banyak kepedihan yang dirasakan jika harus kehilangan sesuatu yang telah menjadi simbol dari rasa cinta kepada suaminya.
Hari-hari pun menggelinding seperti roda mesin. Hiruk pikuk dan bising. Orang semakin santer membicarakan perihal tanaman yang sedang menjadi booming itu. Di setiap sudut kota. Di balik meja kantor, orang-orang berdasi bicara spekulasi bisnis tanaman. Di ujung gang, supir becak ngoceh tentang tanaman yang laku dijual jutaan. Di rumah-rumah, ibu-ibu arisan ngerumpi tentang biji tanaman yang dibeli hingga ratusan ribu. Telinga Sarman terasa gatal. Tak habis pikir, di saat mencari sesuap nasi begitu sulit, banyak orang malah tak segan mengeluarkan berlembar uang hasil keringat untuk membeli daun.
Akhirnya Sarman mengambil keputusan untuk menjual tanaman milik ibunya sebelum booming itu mereda dan tanaman tersebut kehilangan harga. Paling tidak, dua pot tanaman di depan rumahnya bisa laku empat puluh juta seperti kata temannya, Burhan. Apalagi beberapa orang kolektor sempat melirik tanaman yang mulai tumbuh tongkol-tongkol buahnya tesebut, dan menawarnya dengan harga tinggi.
Namun ibu Sarman masih menggelengkan kepala ketika seorang pebisnis tanaman datang kerumahnya mencoba membelinya dengan harga empat puluh juta, tunai. Perempuan sepuh itu hanya bergeming tanpa menoleh pada tas koper yang berisi lembaran uang kertas. Ibu Sarman masih tetap setia pada pendirian untuk tidak menjual tanaman peninggalan suaminya.
“Saya tidak akan pernah menjual cinta dan kenangan saya pada siapa pun,” ucapnya lirih. Kedua matanya menatap tanaman hias itu, seraya seperti biasa membersihkan debu yang menempel pada lembar-lembar daunnya dengan lap kain.
ATAS bujukan isterinya, akhirnya Sarman berbuat nekat. Malam telah larut waktu itu. Sarman dibantu isterinya bermaksud memindahkan dua pot tanaman hias itu ke sebuah mobil bak terbuka yang ia sewa. Sebelumnya, tanaman tersebut ditutup dengan kertas koran hingga ke ujung daunnya yang menyentuh langit-langit. Mereka dengan dibantu seorang supir pocokan berniat mengirimkannya ke rumah seorang kolektor.
Namun ketika mereka akan mengangkat pot tanaman yang berat tersebut. Sebuah mobil Panther berhenti di depan rumah. Dari mobil tersebut empat orang laki-laki berbadan besar merangsek masuk ke teras rumah. Mereka dengan bengis mengacungkan senjata tajam kepada Sarman dan isterinya serta supir pocokan. Sarti nyaris menjerit tapi mulutnya segera dibungkam oleh salah satu perampok.
Ketiga perampok lainnya mencabut tanaman itu dengan paksa hingga keluar dari pot. Mereka lalu mengusung dua tanaman itu dan menimbunnya kedalam mobil. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Sarman mencoba melawan, namun sebuah pukulan benda tumpul mengenai kepalanya hingga terjerembab. Pandangannya kabur dan tergeletak.
Esok paginya Sarman siuman. Para tetangga yang mengerumuninya telah memberikan pertolongan. Sarti tampak masih terkulai tak sadarkan diri. Dengan dipapah dua orang tetangga, Sarman dituntun masuk ke dalam rumah. Teras rumahnya terlihat sangat berantakan. Pandangannya menyapu ruangan tamu mencari-cari wajah ibunya.
Seorang tetangga akhirnya memberitahu Sarman, bahwa ibunya meninggal karena serangan jantung. Ibunya ditemukan para tetangga dalam keadaan tak bernyawa di teras rumah. Wanita sepuh itu sempat terbangun dari tidurnya karena keributan di teras, jantungnya berpacu serupa derap kuda tatkala mendapati mendapati perampok-perampok itu membawa lari hasil rampokan. Kemudian sontak ia terkulai melihat anak dan menantunya tersungkur di lantai. Wanita berumur itu akhirnya tak dapat menyangga tubuh rapuhnya dan jatuh tergeletak di antara pot tanaman anthurium kesayangannya yang telah kosong.
Tiba-tiba kepala Sarman serasa berputar. Dengan tatapan nanar, dia meraung-raung menangisi ibunya yang terbujur di dalam kamar. Sarman tak pernah menyangka cobaan hidup akan seberat ini, dan kini dia semakin menyadari setan bisa menjelma apa saja untuk menggoda hati manusia ketika menjelang bulan puasa. ***
TENTANG PENULIS
Ary Wibowo – Lahir di Surakarta, 28 September 1975. Desainer grafis yang juga menulis cerpen dan puisi. Karyanya pernah dimuat dalam buku Antologi Cerpen Perdamaian: Metamorfosa Cicak di Atas Peta (2003), Antologi Puisi: Dian Sastro for President #2 (AKY, 2004), situs www.cybersastra.net, surat kabar Bengawan Pos, 4 Kumpulan Cerpen Kriminal dari sayembara menulis cerpen Femina 2006, buletin sastra Pawon, serta salah satu karyanya pernah diteatrikalisasikan di Taman Budaya Jawa Tengah-Surakarta sekaligus terangkum dalam Dokumentasi Sastra Seri Antologi Cerpen: Joglo 3 (TBJT, 2007). Baru-baru ini karyanya terpilih dalam 14 cerpen terbaik dari sayembara penulisan yang diadakan oleh Penerbit Escaeva, yang dibukukan dalam antologi cerpen Tembang Bukit Kapur pada Januari 2008. Saat ini penulis tinggal di Surakarta dan bergiat dalam komunitas sastra MejaBolong.
E-mail: arik_wib@yahoo.com
Alamat: Sudiroprajan RT 03 RW 07, Jebres, Surakarta 57121.
HP. 081 393 684 800







